Akankah Koran Online Menggantikan Koran Cetak ? Tinggal Tunggu Saatnya Saja

Akankah Koran Online Menggantikan Koran Cetak ? Tinggal Tunggu Saatnya Saja

Salah satu pertanyaan menarik yang hadir saat dunia memasuki millenium baru adalah terkait dengan perubahan yang akan terjadi akibat perkembangan dunia digital, terutama dengan kehadiran internet. Berbagai pertanyaan timbul karena internet memang merubah secara drastis banyak pola kehidupan manusia dengan kehadirannya. Salah satu yang paling merasakan dampak adalah dunia penerbitan surat kabar atau berita.

Kebiasaan manusia soal membaca berubah drastis dengan lahirnya berbagai perangkat berbasis teknologi digital. Jika di masa lalu, membaca berita adalah dengan cara membeli koran cetak, sekarang bergeser ke arah membaca lewat komputer atau gadget. Terjadi persaingan ketat memperebutkan pasar pembaca dalam dunia membaca. Berbagai media massa baru lahir berbasiskan internet.

Siapakah yang akan menang? Akankah koran online menggantikan koran cetak?

Bagaimana menurut Anda?

Kalau menurut saya, jawabannya jelas sekali dan gejala-gejala ke arah sana sudah terlihat dimana-mana.

Sebagai contoh, ada beberapa kejadian dalam dunia penerbitan berita/surat kabar yang menjadi indikasi perubahan ke arah sana, yaitu :

1. The Independent :

 Koran yang terbit di negeri Ratu Elizabeth sejak 1986, telah 100% berganti haluan dan hanya menggunakan versi daring. Edisi cetaknya sudah dihentikan sejak tahun 2016.

2. Tabloid BOLA

Tahun 2018 yang lalu, salah satu tabloid favorit di Indonesia, Tabloid Bola berhenti mengeluarkan edisi cetak. Salah satu anggota Kompas Gramedia ini tetap hadir, tetapi dalam bentuk daring atau online saja.

3. Majalah HAI

Sama juga dengan BOLA.


Tiga kasus ini hanyalah pucuk gunung es saja dari banyaknya koran atau majalah cetak yang bertumbangan akibat kehadiran media massa online. Bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh dunia kecenderungan ini terus naik.

Banyak fakta yang menunjukkan hal ini, seperti yang bisa dilihat di Journalism.org , dimana tren penurunan penjualan koran cetak terus berlangsung sejak tahun 2000-an dan terus menurun. Pada saat bersamaan, penggunaan koran online atau media massa berbasis daring lainnya terus meningkat, bahkan untuk yang berbayar sekalipun.

Jadi, jawaban terhadap pertanyaan "Apakah koran online akan menggantikan koran cetak?" adalah YA. Yang belum jelas adalah "KAPAN" tepatnya hal itu akan terjadi, tetapi perkembangan dunia menunjukkan bahwa hal itu sulit terelakkan.


Mengapa Koran Online Bisa Menggusur Koran Cetak ?

 

Ada sebab ada akibat. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada alasannya. Dan, mengetahui alasannya akan memperlihatkan beberapa faktor yang penting dan sekaligus menunjukkan mengapa hal ini tidak terelakkan.

Yang pertama : MURAH

Berapa rupiah yang harus Anda keluarkan untuk membeli Kompas edisi cetak ? Berapa biaya yang harus keluar membaca berita secara daring via gadget Anda?

Jawabannya, berapapun harga koran cetak, biaya membaca berita lewat internet lebih murah karena hampir "GRATIS". Kata "hampir" disematkan karena pembaca masih harus membeli gadget dan ongkos internet, tetapi secara rata-rata ongkos murah.

Coba saja hitung biaya pembelian gadget dan internet lalu bandingkan dengan ongkos berlangganan koran edisi cetak. Apalagi, gadget bisa buat berkomunikasi dan kertas koran tidak.

Yang Kedua : LEBIH RAMAH LINGKUNGAN

Tahukah Anda bahwa butuh 1 batang pohon dewasa berusia 5 tahun untuk membuat 1 rim kertas saja? Jadi, bayangkan saja kalau satu industri surat kabar atau majalah edisi cetak butuh 1 juta lembar kertas, berapa pohon yang harus dikorbankan.

Penerbitan surat kabar adalah salah satu industri yang paling besar menggunakan kertas di dunia.

Bandingkan saja dengan "limbah" yang dihasilkan kalau membaca koran edisi online. Limbahnya berupa gadget bekas yang menjadi sampah begitu tidak terpakai. Sangat kecil sekali.

Perhitungan ramah lingkungan menjadi salah satu penentu utama karena semakin lama semakin banyak masyarakat yang sadar dan berusaha menjadi ramah lingkungan.

Yang Ketiga : BERITA LEBIH UPDATE

Hari ini, 27 Juni 2019 adalah hari bersejarah karena gugatan salah satu tim capres, Prabowo-Sandiaga Uno akan diputuskan.

Adakah media cetak yang bisa mewartakan beritanya pada waktu yang sama? Jawabnnya TIDAK. Edisi cetak harus menunggu berita dari wartawan masuk ke ruang redaksi untuk ditelaah dan diedit. Kemudian, masuk ke percetakan.

Baru besok pagi, atau hari berikutnya berita itu akan sampai ke masyarakat.

Bandingkan dengan berita di koran online, seperti DETIK atau KOMPAS atau TRIBUNNEWS. Bahkan, persiapan sidang saja bisa dibahas. Begitu hakim MK mengetukkan palu tanda vonis dijatuhkan, beberapa detik atau saat kemudian, berita itu sudah tayang secara nasional lewat website mereka.



Masyarakat tentu menyukai berita yang update karena dengan begitu mereka bisa mengetahui dan merasa terlibat di dalamnya.

Yang Keempat : PENGIKLAN BERPINDAH KE LAIN HATI

Kebanyakan koran cetak mengandalkan pada pemasukan iklan untuk menopang kelancaran hidupnya, sayangnya pengiklan semakin lama semakin berkurang karena mereka berpindah ke lain hati, yaitu koran online.

Kok bisa begitu?

Ada beberapa hal, tetapi salah satunya adalah karena harga iklan online yang lebih murah dan bisa langsung menghasilkan penjualan.

Coba saja bayangkan, masuk ke koran online ada iklan penjualan kamera. Kemudian, pembaca yang kebetulan tertarik mengklik dan dibawa menuju laman pengiklan. Tertarik dan hari itu juga transaksi bisa terjadi.

Bandingkan dengan memasang iklan di surat kabar, hari ini terpasang, baru besok dibaca orang dan belum tentu tertarik membeli.

Iklan online lebih murah dan efektif karena sesuai dengan perkembangan masyarakat. Lagipula, daya jangkaunya bisa lebih luas. Jika iklan di koran cetak terbatas pada jumlah pembeli, kalau iklan online bisa lebih luas lagi

Yang Kelima : ONGKOS PRODUKSI KORAN CETAK LEBIH MAHAL

Koran atau media massa, baik cetak atau daring adalah bisnis. Mereka harus untung dan tidak akan mau rugi. Oleh karena itu sama dengan jenis bisnis lainnya, selalu ada perhitungan ongkos produksi berita dengan penghasilannya (yaitu dari iklan).

Meski tepatnya perhitungan tiap koran berbeda, tetapi koran cetak pasti lebih memakan biaya untuk diedatkan. Mau tidak mau karena mereka harus memakai kertas, biaya cetak, kemudian ongkos transportasi. Belum lagi kalau percetakannya dimiliki sendiri, berarti harus bayar gaji dan tunjangan para pegawainya.

Hal itu berbeda dengan koran online dimana tidak ada biaya cetak. Begitu keluar meja redaksi mereka akan masuk bagian penerbitan yang lebih ringkas karena artinya hanya mengupload berita ke dalam website.

Terjadi banyak pemotongan dalam alur rangkaian produksi berita dan hal itu sama dengan menghemat biaya, karena ada efisiensi dalam SDM (Sumber Daya Manusia) dan Alat. Artinya, koran online lebih hemat dalam biaya produksi.

Belum lagi untuk mengedarkannya tidak perlu memakai transportasi lagi dan bisa langsung sampai ke tangan pembaca, yaitu via internet.

---

Nah, kesemua hal di atas tadi adalah alasan mengapa suatu waktu koran online akan menggantikan koran cetak. Terlalu banyak faktor dalam dinamika masyarakat digital seperti massa kini yang mendorong koran online untuk berkembang, tetapi mendorong koran cetak untuk terus mengalami penurunan.

Sebagai tambahan, kebijakan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mendorong banyak  negara untuk mengurangi sampah, polusi dan menjadi lebih ramah lingkungan juga berpengaruh besar terhadap situasi dan kehidupan koran cetak. Mau tidak mau karena berarti salah satu badan terpenting dunia mensupport situasi paperless untuk lebih maju dan pada akhirnya akan merubah kebiasaan masyarakat dunia dalam hal membaca.

Cuma, satu pertanyaan tersisa dalam hal ini adalah "KAPAN" koran cetak menghembuskan nafasnya yang terakhir. Itu masih menjadi tanda tanya karena masih sulit diprediksi.

Jadi, bagi pecinta koran cetak, setidaknya masih ada ruang untuk menikmati hal yang disukainya untuk beberapa waktu ke depan. Saya sendiri masih berlangganan satu koran cetak, yaitu RADAR BOGOR.

Bukan karena berminat membacanya, tetapi karena saya tidak ingin memutuskan langganan dengan loper koranya yang sudah berbelas tahun datang ke rumah menyampaikan koran. Meski terkadang bahkan tidak saya baca sama sekali.

(Ini tentang koran cetak yah, bukan tentang buku karena situasi dan kondisinya berbeda lumayan jauh terkait sifat dan karakter penerbitannya).

18 Responses to "Akankah Koran Online Menggantikan Koran Cetak ? Tinggal Tunggu Saatnya Saja"

  1. Iya kayanya tnggal nunggu waktu aja mungkin sebentar lagi, koran online bisa selalu di update setiap saat, bahkan seperti tribun dan kompas itu hanya memiliki jeda beberapa menit saja untuk setiap berita atau artikel yang mereka terbitkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya itu salah satunya...hari ini terbukti banget karena bahkan di Detik ada Live... Tidak bisa didapat di media cetak besok

      Delete
  2. blog saya kena jigling mas, jadi saya non aktifkan dulu kolom komentrnya dan semoga aja yang jigling dapat balasan yang setimpal ya,...kudoakan hidupnya enggak pernah berkah,..biarlah mereka menjigling dan biarkan karma mendatangi mereka dan say juga enggak akan bw lagi mungkin dan terima kasih kepada mas anton dan teman-teman yang selama ini sudah mau berkomentar di blog saya

    saya bukanlah orang yang baik tapi saya akan memberikan yang terbaik, jika mungkin ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan dan hati, selama saya bw saya minta maaf dan saya akan tetap ngeblog

    dan bagi para pelaku jigling tunggulah karmanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar mas Yuwono... anggap saja cobaan. Saya mah sudah kena hack juga, jongling pernah juga.. jadi tidak perlu dibawa terlalu dalam ke hati.

      Move on saja dan terus berkarya

      Delete
  3. Saya lebih suka koran online pak, meski jujur, kadang males juga kalau baca di layar hape, bikin mata saya makin minus saja.

    Tapi, koran biasa juga nyebelin, kalau nggak langganan nyarinya sulit banget sekarang.
    Nggak ada di tiap tempat kayak dulu lagi.

    Saya rasa, suatu saat nanti koran biasa akan benar-benar ditinggalkan, tapi nanti sih, beberapa tahun mendatang.

    Karena sekarang, masih banyak generasi jadul yang meskipun hapenya canggih, tapi mereka lebih nyaman membaca koran biasa.

    Dan sebagai mamak-mamak saya juga senang kalau ada koran di rumah.
    Biar bungkus bahan-bahan makanan di kulkas nggak ribet cari kertas, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. - iya kalau soal baca koran, saya lebih suka yang online. Beda sama buku

      - emak-emak jadul, ngerti pisan yang ini mah

      - koran jadi pembungkus, dimengerti juga. Mungkin itulah alasan lain kenapa saya masih beli koran cetak

      Delete
  4. wah baru tahu bola ternyata nggak ada versi cetaknya lagi padahal itu koran kegemaran saya

    ReplyDelete
  5. wah, kalau koran cetak hilang, ntar gak ada lagi buat pembungkus, dan gak ada lagi tugas bikin Kliping bagi siswa kali. ;)

    ReplyDelete
  6. Kalau melihat, perkembangannya, kayaknya Koran Cetak bakal di gusur oleh Koran Online, dan ini malahan bagus, sebab Produk yang biasanya memasang iklan di media cetak, maka lambat laun memasang iklan secara online juga. Itu artinya disana ada peluang blog mendapat Job Iklan juga.Kan asyikkkk... :)

    Tapi waktunya masih agak lama, karena harus menunggu pengemar pembaca koran menjadi berkurang dahulu, lalu gulung tikar, lalu beralih ke Media Online.

    Ohy.. ketika beralihnya media cetak ke Media online secara 100 % , ternyata nanti bakal membuat pengguna internet bertambah, sebab yang sering baca koran bakal , Online Juga. Iya,kan...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup.. memang sisi positifnya kesana juga ada.

      Soal lama, yah memang namanya evolusi pasti butuh waktu. Masyarakat butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan gaya baru..sabar saja..

      Benar begitu.. arahnya memang kesana..meski entah kapan.. susah ditebak

      Delete
  7. Di sekolah saya masih langganan koran, Pak. Beberapa instansi memang belum bisa lepas dari koran cetak. Perpustakaan bahkan harus membuat bundelan koran harian setiap bulannya. Tidak tahu entah sampai kapan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tidak heran mendengar masih ada yang memakai cara ini, cuma mungkin suatu waktu semua akan beralih ke digital.

      Perpustakaan di luar negeri setahu saya sudah men-scan semua koran lama ke dalam bentuk digital dan bisa diakses lewat gadget juga. Jadi, mungkin tunggu perubahan itu masuk dan akhirnya kebiasaan membundel koran lama akan tergantikan dengan men-scannya dan menyimpan secara digital

      Delete
  8. Koran online tanpa cetak juga kurang lengkap. Saya rasa akan tetap ada walau oplahnya tidak begitu banyak. Karena koran cetak untuk melengkapi eksestensi keberadaannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk saat ini memang masih, tetapi rasanya ke depan, dengan berbagai pertimbangan ekonomis, saya pikir koran cetak memang akan punah dengan sendirinya

      Delete
  9. Di agen koran di tempatku yg dulunya ramai sekarang sudah sepi, tinggal menunggu waktu media cetak akan punah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah sama di Bogor juga banyak agen koran yang bertumbangan

      Delete
  10. isi blogmu sngat bermanfaat gan,, tdk ada yg tdk berguna....

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel