Passion Bisa Ditumbuhkan Dan Dibangun

Passion Bisa Ditumbuhkan Dan Dibangun

Passion Bisa Ditumbuhkan

Passion bukan makanan. Jelas bukan. Bukan pula minuman. Juga bukan pakaian. Apalagi gadget atau smartphone. Meski, passion bisa terkait dengan semua itu, tetapi passion tidaklah berbentuk hal-hal seperti itu.

Passion adalah salah satu hal "gaib" yang ada di dunia ini. Wujudnya tidak terlihat, tetapi ada dan bisa dirasakan. Coba saja kalau tidak percaya, ketika Anda melakukan sesuatu yang Anda sukai, dalam berbagai hal, seperti berjalan-jalan dengan pacar, nah disitu ada passion. Siapapun tidak akan melihatnya, tetapi yang melakukannya akan merasakan di dalam hatinya.

Pada dasarnya itulah passion, sebuah rasa dan emosi yang setiap orang pasti memilikinya dan pernah merasakannya. Biasanya rasa itu hadir ketika kita melakukan hal yang kita sukai, gemari, dan nikmati. Passion tidak akan hadir ketika, kita mengerjakan sesuatu dengan rasa kesal dan geram di dalam hati.

Jika dibuatkan definisinya, maka passion adalah rasa atau emosi yang meluap-luap, gairah, semangat dan susah dikontrol.

Nah, passion inilah yang kerap disarankan oleh para master blogger (atau tentunya yang mengaku master) untuk dimiliki ketika ngeblog. Mereka kerap menyarankan agar memilih bidang dimana kita memiliki passion terhadapnya.

Penting! Begitu katanya agar kegiatan bloggingnya langgeng.

Cuma, ternyata banyak yang bingung menemukan dimana passionnya berada. Mungkin karena "kegaibannya" itulah yang membuatnya sulit ditemukan. Tidak sedikit yang pada akgirnya berpikir bahwa passion adalah sejenis wangsit yang harus ditunggu kedatangannya.

Padahal sebenarnya tidak selalu demikian. Menemukan passion itu mudah. Tidak perlu bersemedi di gua gelap di Pelabuhan Ratu atau Laut Selatan untuk mendapatkannya karena passion itu bisa ditumbuhkan dan dibangun.

Tidak percaya?

Pernah mendengar dua pepatah, yang satu bahasa Indonesia dan yang satunya lagi dalam bahasa Jawa, yaitu :

  1. Tidak kenal maka tak sayang
  2. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino 
Yang pertama, jelas sudah artinya bahwa kerap kalau kita tidak mengenal sesuatu, kita tidak menyayanginya (walau kadang setelah kenal malah jadi benci juga, tapi ya namanya pepatah).

Rasa sayang adalah salah satu bentuk "passion" yang paling umum dan spontan. Coba saja ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, rasanya berdekatan dengan orang yang disayangi itu terasa sangat menyenangkan, membuat hati berbunga-bunga, dan gembira sekali terkadang membuat malas meninggalkannya.

Dan, pepatah yang satu ini menunjukkan hal lain, bahwa untuk menyayangi sesuatu, memiliki passion terhadapnya, harus dibangun dari awal dengan cara "mengenalinya". Jadi, passion bukanlah sebuah wangsit yang datang begitu saja. Ia harus dibangun dan ditumbuhkan.

Beranjak ke pepatah Jawanya. Maknanya adalah "menjadi cinta karena sering bertemu". Cinta adalah salah satu bentuk passion lagi, dan disini tercermin bahwa cinta bisa dibangun dan dikembangkan kalau sering "bertemu".

Iya kan?

Semua menunjukkan passion bukan sesuatu yang didapat secara alami, tetapi karena terbentuk dari banyak hal, berupa pengetahuan, pengalaman, dan banyak hal lainnya. Bukan hadir secara tiba-tiba.


Pembiasaan. Tidak beda dengan sepasang suami istri yang menikah karena dijodohkan, mereka akan bertemu setiap hari. Berbincang setiap pagi. Mengurus rumah tangga bersama-sama setiap hari. Interaksi rutin dan konstan seperti ini pada akhirnya bisa berujung pada lahirnya passion terhadap satu dengan yang lainnya.

Itulah mengapa di zaman dulu, banyak pasangan yang menikah karena dijodohkan bisa langgeng walau katanya tidak berdasarkan cinta (passion). Itu disebabkan karena mereka menumbuhkan dan mengembangkan passion di antara mereka karena seringnya bertemu dan berinteraksi.

Oleh karena itulah, sebenarnya kalau memang ingin memiliki "passion" yang berguna untuk kegiatan ngeblog, tidak perlu rumit-rumit untuk menemukannya.

Jika Anda suka tentang elektronika, tulis saja tentang hal itu terus menerus. Bila suka membahas bagaimana membuat kue gosong, ya jangan ragu mengetikkan kalimat dengan kalimat bagaimana cara membuat kue gosong tadi.

Lakukan terus. Lagi, lagi, dan lagi.

Pada akhirnya, kalau itu kontinyu dilakukan tanpa henti, suatu waktu rasa sayang terhadap apa yang ditekuni akan hadir. Passion itu akan muncul karena ditumbuhkan dan dipupuk terus menerus.

Pilih salah satu bidang yang Anda sukai. Apa saja. Baik itu hanya sekedar suka saja tidak masalah. Setelah itu jalani dan tekuni terus menerus sampai terjalin ikatan antara Anda dan apa yang dikerjakan. Suatu saat rasanya akan berat sekali meninggalkan kegiatan itu karena passion itu sudah menjadi pengikat.

Seperti saya sekarang ini. Saya suka menulis, tetapi pertama kali saya tidak tahu apa yang menjadi passion saja. Apakah kota tempat saya tinggal yang merupakan sumber gairah dan semangat? Apakah tentang fotografi? Apakah tentang lingkungan?

Tidak. Saya tidak tahu apa yang menjadi passion saya. Tidak terbayang, walau sudah membaca puluhan artikel yang membahas soal ini.

Sampai setelah beberapa tahun, saya menemukan "passion" itu, yaitu "MENULIS". Saya menikmati menulis tentang apa saja, mau fotografi, wisata, dan banyak lagi lainnya. Pada saat itulah saya merasa senang, bebas, lepas, dan gembira.

Jadi, yang saya lakukan adalah ya menulis.

Sabodo teuing, bodo amat kata orang Sunda terkadang kesannya tidak terarah dan lompat-lompat dari satu topik ke topik lain. Toh tidak mengganggu orang lain dan melanggar hukum. Selama hal itu menbuat saya bersemangat dan senang, maka saya akan lakukan.

Itulah mengapa Maniak Menulis lahir. Untuk tempat saya merasa bahagia sekaligus berbagai kepada siapapun yang mau membaca bahwa passion itu tidak perlu dicari. Passion itu bukan wangsit dan jimat yang harus ditunggu datang malam Jum'at Kliwon.

Passion itu adalah "rasa" dan "emosi" yang bisa ditumbuh kembangkan di dalam hati kita.

Tapi, terserah sih mau percaya atau tidak. Bukan urusan saya kalau soal itu.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments