Tidak Perlu Marah Kepada Pengguna UC Browser, Apalagi Kalau Masih Suka Melakukan Yang No 3

Tidak Perlu Marah Kepada Pengguna UC Browser, Apalagi Kalau Masih Suka Melakukan Ini

UC Browser, satu nama yang akan menyebabkan banyak Publisher Adsense merengut kesal, mencak-mencak, hingga memaki-maki. Marah. Penyebabnya, karena aplikasi browser untuk perangkat mobile buatan UCWeb ini memiiki fitur anti ads atau anti iklan yang bisa menyebabkan iklan tidak tayang di monitor penggunanya.

Dan, hal itu tentu saja membuat gerah para Adsense Publihser yang justru mengharapkan iklan dapat tayang sebanyak mungkin. Dengan begitu, para publisher berpeluang mendapatkan uang karena yang melihat mengklik iklannya atau setidaknya dari biaya per-seribu tayang (RPM).

Tidak tayangnya iklan tentu saja membuat peluang para publisher mendapatkan uang menjadi lebih kecil.

Itulah mengapa muka para Adsense Publisher, atau mereka yang menggunakan iklan lainnya meradang, marah, gerah. Bahkan, sekelas master blogger Indri Lidiawati saja pernah mengungkapkan kegeramannya terhadap para pengguna UC Browser dalam salah satu artikelnya (lupa tapi yang mana).

Kegeraman para publisher itu diwujudkan dalam banyak hal. Caci maki dengan kata kasar pun sekali dua terlihat di berbagai forum.

Ada yang memakai cara lain, yaitu melarang mereka yang memasang Ad Blocker atau aplikasi penge-blok iklan untuk melihat tulisannya. Mereka memasang Anti Ad-Blocker yang akan memberitahukan bahwa artikel tidak akan tayang kalau ad-blocker masih aktif, atau setidaknya kalau website mereka belum dimasukkan ke dalam whitelist atau daftar putih browser itu. Yang artinya iklan akan tayang.

Duit ternyata memang bisa membuat orang menjadi kalap.

Lucu juga sebenarnya melihat fenomena ini, tetapi saya mengerti tentang kegeraman dan kekhawatiran para publisher dalam hal ini. Bagaimanapun, UC Browser adalah salah satu browser yang sangat disukai di dunia. Paling tidak, menurut klaim dari UCWeb, perusahaan yang dipunyai Alibaba Corp, punya Jack Ma, sudah 500 juta pengguna yang memakainya.

Tentunya, bisa dibayangkan ketakutan dan kegeraman para publisher melihat potensi pendapatan yang terhambat karena hadinya si browser yang lahir tahun 2004 ini.

Pasti.

Dan, takut. Bayangkan saja kalau UC Browser menjadi populer dan menggantikan Google Chrome sebagai aplikasi browser mobile terpopuler di dunia, dengan lebih dari 1 milyar pengguna. Bisa bayangkan betapa makin susahnya menayangkan iklan dan tentunya mendapatkan uang dari cara ini.

Cuma, apa iya harus sampai memaki-maki dan marah-marah kepada pengguna UC Browser, sampai ada yang tega mengeluarkan kata-kata tidak pantas?

Rasanya kok ada yang tidak benar dalam hal itu. Sayang banget mulut diberikan Tuhan kok dipakai untuk mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas.

Lagipula,

1. Yang namanya bisnis itu selalu akan menghadapi masalah dan tantangan. Kalau mau berbisnis, ya harus siap menemukan solusinya untuk mengatasi semua itu. Kalau tidak mau, ya jangan berbisnis.

Kalaupun memang blognya dijadikan lahan penghasil duit, ya bersiaplah menghadapi hal-hal tak terduga seperti ini. Temukan solusi agar uang tetap bisa masuk.

Dan, memaki-maki pengguna UC Browser sih bukan pemecahan masalah. Duit tidak akan masuk mau mengeluarkan sumpah serapah 1 juta kali pun. Yang ada capek

2. Itu kan hak seseorang untuk memakai browser apapun. Ini dunia bebas, dan semua orang berhak memilih. Lalu, kenapa harus memarahi orang yang menggunakan haknya? Lucu juga.

3. Nah, yang ini malah akan semakin lucu dan kelihatan egoisnya. Pernahkah kita menonton sebuah siaran televisi di rumah (pasti dong), kemudian ada iklan yang tayang, lalu apa yang Anda lakukan? Pindah ke saluran lain atau tetap menonton iklannya?

Kebanyakan jawabannya akan mencari saluran lain. atau mengerjakan hal lain dan tidak menonton iklannya. Tidak jarang juga merasa kesal dan sebal ketika tayangan iklan muncul di tengah keasyikan.

Lalu, kenapa orang lain tidak boleh merasa tergganggu melihat ada iklan muncul di layar gadget mereka? Mengapa mereka harus mau melihat iklan yang kita tayangkan, tetapi kita sendiri tidak mau melihat tayangan iklan yang orang lain perlihatkan?

Tidak konsekwen namanya.

Mau mencubit tetapi tidak mau dicubit.

Jadi, tidak perlu marah-marah kepada para pengguna UC Browser kalau Anda memilih mengambil remote TV dan memindahkan salurannya saat iklan orang lain tayang.


Argumen yang kerap dipakai adalah "Memangnya membuat tulisan itu mudah dan tidak makan biaya? Seharusnya dihargai dong!". Memang benar, ada biaya yang dikeluarkan saat membuat sebuah postingan, listrik, kopi, dan entah apalagi.

Tetapi, "Memangnya membuat acara di televisi itu tidak mengeluarkan biaya dan tenaga? Hargai dong jerih payahnya?"

Sama saja. Semua memerlukan biaya dan mencurahkan tenaga saat membuatnya. Tidak gratis. Kalau mau dihargai, ya hargai juga karya orang lain, termasuk iklan-iklan di TV.

Kenyataannya, tidak demikian kan. Kita ingin dihargai, tetapi juga tidak menghargai orang lain dalam hal ini.

Lucu memang.


Lalu, kenapa harus marah-marah sih?

Memasang Anti Ad-Blocker rasanya lebih baik daripada mengeluarkan kata-kata kasar. Setidaknya memberikan pilihan kepada pengguna, negosiasi, dan tawar menawar. "Elu mau baca tulisan gue, elu juga harus mau melihat iklan di dalamnya. Kalau nggak suka, silakan pergi" Intinya begitu.

Dan, walau saya tidak menggunakan A-Blocker type apapun, kadang saya menemukan ada blog/website yang menampilkan pernyataan seperti itu saat dibuka. Mungkin, ada masalah teknis karena tidak pernah ada aplikasi Ad-Blocker di Samsung Galaxy A6 atau Asus T00N saya. Di komputer pun tidak ada.

Yang, saya lakukan hanyalah "menekan tombol back" dan pergi dari situ. Tidak kembali lagi. Bukan karena saya tidak mau iklan tayang, dan tidak pernah jadi masalah kalaupun iklan tampil. Lha ya wong kadang, iklan pun saya tonton.

Saya akan pergi karena tidak mau diatur oleh yang punya blog/website. "Gadget-gadget saya , dibeli pakai hasil jerih payah sendiri, siapa elu maksa gue pasang atau mematikan aplikasi yang gue mau", begitu pikir saya.

Juga, web apapun itu, pasti ada website atau blog lain yang menulis hal yang sama. Mengapa saya harus terikat pada satu blog itu saja? Tidak pernah jadi masalah tidak membaca artikel yang ada disitu juga.

Berdasarkan pemikiran seperti tulah, saya memutuskan bahwa tidak akan memasang Anti Ad-Blocker atau melakukan tindakan apapun. Tidak mau lah saya marah-marah kepada penggun UC Browser atau yang memasang Ad-Blocker. Itu hak mereka.

Apakah tidak takut pendapatan sebagai publisher Adsense berkurang?

Kenapa harus takut? Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Kenyataannya, tetap saja penghasilan Adsense saya tumbuh dan berkembang, walau 15-20% yang berkunjung ke semua blog yang saya kelola menggunakan UC Browser.

Pemecahannya sebenarnya sederhana dalam hal ini. Tidak perlu misuh-misuh dan memaki-maki orang lain, yaitu :

a) Anggap saja artikel yang dibaca para UC Browser adalah bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility). Setiap perusahaan punya kewajiban sosial memberikan sesuatu demi kepentingan orang banyak. Selesai. Sedekah.

Dan, saya berpikir karena saya blogger dan bukan internet marketer, justru uang dari Adsense itu adalah bonus saja dan bukan tujuan utama. Membagikan apa yang saya tahu, justru masih menjadi prioritas utama.

b) Kalaupun uang yang menjadi sasaran, pemecahannya pun simpel. Daripada berpikir tentang uang yang tidak ada, coba saja pastikan uang yang bisa masuk.

Jika, kita menargetkan dapat US$ 100 dari 10,000 pageviews dan ternyata hanya dapat 7.500 PV karena yang 2.500 adalah pengguna UC Browser, kita bisa tetap mendapatkan US$ 100 itu dengan cara berusaha menaikkan pageview-nya tadi sehingga target US$ 100 tetap tercapai.

Hanya perlu menjadikan pageview-nya ke angka 13.000-14.000 saja dan angka dollar yang sama tetap bisa didapat.

Memang, berarti kerja keras sedikit lebih lama. Tetapi, bukankah dalam setiap hasil yang kita dapat harus dikeluarkan zakatnya? Bukankah  juga dalam setiap produksi benda apapun ada barang yang cacat dan tidak 100% sempurna?

Tidak perlu terlalu berlebihan dalam menyikapi pengguna UC Browser. Apalagi sampai marah-marah. Tidak ada gunanya juga karena mereka tidak mendengar.

Lebih baik, santai saja dan nikmati perjalanan ngeblognya. Rugi dua kali kita, sudah uang tidak didapat, mulut jadi kotor dan jadi seperti kaleng rombeng, dan malah tidak enjoy sama sekali.

Take it easy guys!

6 Responses to "Tidak Perlu Marah Kepada Pengguna UC Browser, Apalagi Kalau Masih Suka Melakukan Yang No 3"

  1. Saya tidak pake Uc browser, tapi juga jarang pake chrome. Biasanya browsing pake aplikasi bawaan HP, dan jujur saja ada adblokernya. Bahkan saat baca artikel ini, iklan tidak tayang.

    Saya senang menggunakan aplikasi ini karena saat balas komentar di HP, tidak mau melihat iklan di blog sendiri. Akibatnya, browsing di tempat lain pun iklan juga diblokir.

    Tapi ada kalanya saya pake chrome di Hp. Intinya sesuai kebutuhan aja.

    Oleh karenanya, sebagai publisher, saya pun tidak pake anti adbloker. Biarkan pembaca yang memutuskan, mau melihat iklan atau tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengakuan jujur bu Guru.. dan sebagai pembaca, bu Guru tidak salah. Itu hak masing-masing individu.

      Delete
  2. Di forum Ads.id sampe dimaki-maki, pada marah-marah sama UC Browser ini. Malah saking marahnya sampe ketuker antara UC Browser sama aplikasi UC News hehe
    Padahal ya hak masing-masing pembaca juga mau pake browser apa, kalo mau pemilik blog juga bisa pasang anti-adblocker. Semua ada konsekuensi yang mesti ditanggung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti ada konsekuensi.. cuma sayang saja mulut dan hati kita dipakai untuk nyinyir seperti itu.. Tidak bermanfaat

      Kata saya lo

      Delete
  3. Saya baru tau ternyata ada berita seperti ini.

    Kalau dipikir-pikir, saya juga males pas enak baca tiba-tiba ada iklan melayang hehe. Tapi kalau dipikir lebih lagi, semua ini juga pilihan dan tentu ada resikonya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. No free lunch ya Nadia..:-D selalu ada resiko

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel