Tumpukan Majalah Tua Nan Usang Penyimpan Sejarah

Tumpukan Majalah Tua Nan Usang Pemberi Inspirasi

Kalau dijual kiloan, uang yang didapat mungkin tidak akan cukup untuk nonton di XXI. Kalau diberikan kepada orang lain, bisa jadi hanya akan jadi pembungkus saja.

Itulah mengapa tumpukan berbagai majalah tua nan usang ini, sampai hari ini, masih dengan setia menempati salah satu pojok di rumah ibu. Ada rasa tidak tega untuk membuangnya, mengingat majalah-majalah ini pernah menjadi teman akrab di masa lalu.

Warnanya sudah kekuningan karena kertasnya sudah berubah warna dan juga sudah mulai tampak tumpukan debu yang menebal karena sejak wafatnya ayah, tidak ada lagi yang rajin mengelapi majalah-majalah ini.

Mudah-mudahan nasibnya akan berbeda di masa datang. Terutama, karena saya, sang blogger yang terlalu maniak dalam menulis menemukan bahwa nilai yang ada di dalam tumpukan majalah tua ini lebih berharga daripada uang.

Di dalamnya terdapat banyak sekali informasi, berita, tentang berbagai hal di tahun 1980-1990-an , sesuatu yang mungkin kurang diketahui dan mendapat perhatian orang-orang di masa kini.

Informasi sejarah yang ada di dalam majalah-majalah usang ini bisa disebarkan kepada banyak orang via blog Maniak Menulis atau yang lainnya. Tentunya, hal itu akan menambah perbendaharaan informasi yang beredar tentang beberapa kejadian di masa lampau.

Oleh karena itulah, maka saya memutuskan untuk kembali aktif membuka-buka bundelan-bundelan majalah TEMPO, Jakarta-Jakarta, HAI, Intisari dan beberapa lainnya yang terbit di antara tahun 1980-1990-an.

Isinya masih banyak sekali yang relevan dan bisa bermanfaat bagi masa sekarang, 20-30 tahun setelah majalah itu terbit. Banyak foto yang mungkin sekarang susah ditemukan via internet ada di dalam majalah-majalah tersebut.

Yang perlu dilakukan hanyalah menambahkan satu dua kategori di blog dan sebuah smartphone saja (untuk memotret halaman-halamannya).

Tumpukan Majalah Tua Nan Usang Pemberi Inspirasi

Mungkin, dengan begitu saya bisa berbagi tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang mengalami masa dimana Tembok Berlin runtuh. Perasaan senang dan gembira melihat tembok penghalang kemanusiaan itu akhirnya runtuh.

Saya juga akan bisa bercerita tentang bagaimana tidak enaknya hidup di zaman Orde Baru, yang banyak anak muda bilang ingin kembali ke masa itu. Majalah-majalah ini menyimpan sebagian kecil sejarah dari masa lalu yang banyak orang tidak alami dan ketahui.

Dan, saya memutuskan untuk berbagi kepada siapapun yang mau membaca via Maniak Menulis.

Hal itu lebih baik rasanya dibandingkan melihatnya dirobek dan hanya dijadikan bungkus kacang saja. Tidak berharga.

3 Responses to "Tumpukan Majalah Tua Nan Usang Penyimpan Sejarah"

  1. Tempo dan Intisari adalah bacaan saya sewaktu belum mengenal namanya internet. BUku tsb saya beli diloak'an....

    ada majalah Kartini atau Trubus Pak ?

    ReplyDelete
  2. saya tunggu loh pak tulisan tentang majalahnya.

    saya uga akan senang sekali kalau di perkenankan membaca langsung.

    ReplyDelete
  3. Siap mas.. kalau mau baca langsung datang ke Bogor 😂

    Kartini tinggal sisa beberapa Kang, seharusnya ada. Trubus punya beberapa tapi ga langganan

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel