Tidak Perlu Pusing Membuat Artikel Berkualitas - Setiap Tulisan Ada Pangsa Pasarnya

Tidak perlu pusing membuat artikel berkualitas - Setiap tulisan ada pangsa pasarnya

Bakalan kena gebuk para blogger tutorial (tentang blogging) dan internet marketer nih kalau ketahuan. Sementara mereka berbusa-busa mempopulerkan jargon supaya para blogger membuat artikel berkualitas, Maniak Menulis justru menyarankan sebaliknya.

Memang, kenyataannya dan saya yakin begitu adanya. Apa yang dikatakan soal pentingnya artikel berkualitas yang digembar-gemborkan sebenarnya cuma sekedar hiperbola saja. Berlebih-lebihan dan justru memberikan gambaran "palsu" alias tidak tepat tentang ngeblog itu sendiri.

Bukan hanya karena "kualitas" itu sendiri tidak bisa diputuskan oleh sang blogger, tetapi oleh kalangan pembaca, ada satu alasan lagi.

Namanya "pangsa pasar".

Mungkin banyak blogger yang tidak menyadari kalau sebuah pasar sebenarnya tidak homogen, sama, serupa, di seluruh bagiannya. Ada bagian-bagian yang mewakili ciri khas konsumen, seperti tingkat pendapatan, pendidikan, umur, jenis kelamin, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, sepasang sepatu merek Adidas dengan harga di atas 5 juta rupiah hanya akan dibeli mereka yang pendapatan perbulannya di atas 25 juta. Sebaliknya sepatu bermerk "YYYY" yang buatan lokal berharga 150 ribu saja sepasangnya biasanya dibeli mereka yang berpenghasilan setara UMR (Upah Minimum Regional) saja.

Orang dari kalangan pertama, pembeli Adidas  jarang dan hampir tidak pernah membeli yang "YYYY". Mereka memiliki selera dan kriteria tentang kualitas yang berbeda. Sulit bagi mereka untuk diajak membeli "YYYY" kalau tidak sangat terpaksa. Begitupun sebaliknya, membeli Adidas adalah impian dari kalangan pembeli kategori kedua, tetapi penghasilan menjadi hambatan utama mereka.

Ada batasan masing-masing kalaugan, yang akhirnya membedakan kedua kalangan.

Inilah yang disebut dengan segmentasi atau pangsa pasar.

Dalam dunia blog, sebenarnya tidak berbeda. Kalangan "pembaca" adalah istilah yang rumit dan ruwet kalau dijabarkan. Tidak sama. Mereka juga memiliki tingkat pendidikan, pengetahuan, pendapatan, umur dan hal lain yang berbeda.

Kriteria mereka terhadap kata "kualitas" pun berbeda juga. Tidak akan pernah sama.

Jadi, kalau ada jargon ala internet marketer yang mengarahkan untuk membuat artikel yang berkualitas, sebenarnya menunjukkan kapasitas sang internet marketer sendiri, yang kurang pengetahuan.


Mereka tidak paham bahwa "kualitas" akan selalu berkaitan dengan pangsa pasar ini tadi.

Contohnya, sebuah tulisan berkualitas di bidang blogging, sudah 10000 kata dengan kata kunci di atas 5% dan diberi backlink 1000 buah, tetapi pembacanya adalah anak umur 13 tahun yang sekedar mau menulis tentang pengalamannya berlibur, apakah tulisan tersebut menjadi berkualitas?

Sulit dikatakan, tetapi kemungkinan besar TIDAK.

Tulisan "berkualitas" seperti itu tidak sesuai dengan apa yang dicari sang anak dan biasanya memakai bahasa yang diluar jangkauannya.

Karena itu, meski dianggap yang menulis sebagai sudah sangat berkualitas, di mata sang anak, itu tulisan paling ruwet dan membosankan yang pernah dibaca.

Itu terkait dengan kualitas yang sering dijadikan iming-iming internet marketer dalam menarik pembaca ke blognya.

Satu lagi.

Lihat dari sisi yang berbeda.

Pernah melihat sepatu seharga di bawah 100 ribu? Saya sering. Kualitasnya menurut saya sangat tidak bagus dan gampang jebol.

Apa ada pembelinya?

Banyak!

Padahal, banyak pula yang tahu kalau sepatu seperti itu mudah sekali rusak.

Lalu, kenapa tetap dibeli? Ya karena keterbatasan keuangan, cuma buat iseng, karena terpaksa dan banyak lagi alasan lainnya.

Meski "kualitas" rendah, pembelinya tetap ada.

Itulah yang menghadirkan istilah seperti KW1, KW2, KW3, dan seterusnya. Karena masing-masing memiliki pangsa pasar yang berbeda.

Tulisan seberapapun jeleknya akan tetap ada yang baca. Dijamin. Mau tulisan KW1,2,3 akan tetap begitu.

Bukan apa-apa. Sama seperti pasar di dunia nyata, pembaca juga akan memiliki segmentasi yang berbeda-beda. Tidak semua ingin membaca tulisan rumit dan menggurui. Banyak yang sekedar iseng dan ingin baca juga.

Sejelek apapun. Karena saya sendiri sering membaca tulisan di blog-blog yang menurut saya jelek tetapi pengunjungnya bejibun. Bisa lihat Blog Linda Ikeji deh, menurut saya mah, ampun artikelnya. Tetapi, hal itu tidak menafikan jutaan orang pembacanya,

Jadi, sebenarnya tidak perlu khawatir dan pusing soal membuat artikel berkualitas. "Tidak berkualitas" seperti yang dimaui para internet marketerpun tetap akan ada pembacanya. Pangsa pasarnya pasti ada.

Apalagi, kebanyakan blogger atau internet marketer yang mengatakan seperti itu sebenarnya tidak paham bahwa setiap "PASAR ITU BERBEDA" dan mereka selalu menutupi fakta bahwa kualitas akan tergantung jenis pasarnya.

Jadi, mengapa harus pusing mengikuti kata-kata mereka yang sebenarnya tidak paham tentang itu. Tulis saja seperti yang Anda mau. Setelah itu, biarkan pasar yang menilai kualitasnya.

12 Responses to "Tidak Perlu Pusing Membuat Artikel Berkualitas - Setiap Tulisan Ada Pangsa Pasarnya"

  1. iya betul Pak ,ngk perlu pusing. Blog Asik Pedia saya saja contohnya. Walau artikelnya tidak begitu berkualitas dan tdk penting2, namun tetap ada pembacanya.

    tidak diposting jg tetap ada pembaca, jadi tidak ada istilah artikel yang mubazir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kang.. sselama konsisten dan rajin, pembaca akan selalu ada.

      Delete
  2. Betul pak Anton saya juga terkadang cuma pengin membaca tulisan yang pendek-pendek saja, ringan tapi menghibur. saya pernah baca blog curhatan puisi seorang wanita yang pendek dengan warna-warninya di sekitar tulisannya tapi bagi saya lucu dan bikin saya inget terus.

    kalau secara kwalitas sih biasa aja. tapi ya itu tadi lucu aja bacanya. dan yang bikin heran yang baca dan komentar buanyak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah yang kayak gitu malah menyenangkan untuk dibaca dibandingkan berteori soal kualitas.

      Delete
  3. Posting ini justru berkualitas tinggi. Karena ulasannya dilandasi pengetahuan tentang segmen pasar dalam ilmu ekonomi.

    Hanya saja kata "berkualitas" itu adalah kata yang tiap orang memiliki parameter sendiri-sendiri. Jadi kata itu tidak memiliki standar baku.

    Tapi saya kurang setuju kalau dikatakan "silahkan asal-asalan", buktinya tulisan diatas yang kata Sampeyan tulis tanpa memikirkan kualitas (katanya) juga akhirnya berkualitas dalam sudut pandang sebuah opini blogger. Tulisannya bebas typo, dan dimata enak dibaca. Jadi sebenarnya ini bukan tulisan asal-asalan.

    Kalau asal-asalan itu susunan kata dan paragrafnya justru ngaco dan mbulet, apalagi kalau pengetikannya salahnya banyak.

    Kalau urusan tema tulisan kan tergantung penulisnya to, kalau tema dianggap kualitas, maka yang bilang begitu pasti goblok.

    Btw penulis blog ini sebenarnya Anton Ardyanto atau Supir Bajaj? atau ada 2 author? hehe, gara-gara tulisan-tulisan Anda aku jadi meneliti blog ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Saya nggak nulis silakan asal-asalan, yang saya tulis, tulis seperti yang Anda mau... Dalam hal ini tanpa memikirkan kualitas karena penentuan kualitas bukanlah di tangan kita

      2. Saya memang tidak memikirkan kualitas saat menulis artikel ini (dan yang lainnya). Saya pilih jalan membebaskan diri dalam menulis. Kalau memang ada yang berpandangan artikel ini bagus dan berkualitas, ya Alhamdulillah. Kalau ternyata ada yang dikritisi, ya berarti ada yang kurang cocok dan wajar saja perbedaan itu.

      3. Tulisan asal-asalan sendiri, terkadang tetap ada pembacanya. Karena, seperti sampah sekalipun, tetap ada yang bisa mempergunakannya.

      4. Supir bajay atau Anton Ardyanto itu sama orangnya. Blog Maniak Menulis ada di bawah akun Google supir bajaj sebenarnya,Cuma, karena saya malas berpindah akun sebelum komentar, ya saya pakai saja akun Anton Ardyanto... Tidak ada dua penulis mas saat ini, belum mampu bayar saya mah...:D

      Delete
  4. Mencerahkan gan artikelnya.
    Tapi - tapi....

    Pasar memang beda beda sih, ada pasar yang ramai ada pasar yang kurang ramai (sepi).
    Cuma ya bagaimana kitanya memilih mau masuk di pasar yang mana dengan pertimbangan plus dan minusnya masing masing.
    Bisa juga kita mix nih kapan main di pasar ramai dan kapan main di pasar kurang ramai (sepi).

    CMIIW...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemm.. emang terserah.. soalnya ada juga yang nggak milih pasar... yaitu yang menulis karena ingin menulis saja..

      artikel Kualitas buat saja dalam menulis hanya sesuatu yang digembar gemborkan saja oleh para internet marketer dan blogger tutorial. Soalnya, bahkan tulisan yang dikatakan master blogging atau internet amrketer saja, disebut bagus-bagus amat juga nggak.. biasa saja.. Cuma mereka gemar mengklaim diri sebagai penulis berkualitas

      Delete
    2. Penangkal Petir SurabayaMay 8, 2018 at 11:43 AM

      Iya gan memang saya akui yang pure suka nulis (tidak terbatas tema) malah ide ide mereka fantastis, tapi biasanya kalo sudah terbatasi dengan tema atau niche membuat tulisan kurang ekspresif.
      Tapi mah kalo emang uda jago nulis kayak agan sih pasti bisa buat tulisan itu soft padahal ada niche di dalamnya. He.. he..

      Delete
    3. O ya.. kok saya baru tahu ada niche di dalamnya.. hahahaha...

      Delete
  5. Saya udah cek blog mbak Linda Ikeji. Dan.. W O W!

    Ramai sekali! Saya bingung mau baca apa hahaha. Tapi pas baca-baca sebentar latar belakangnya, saya jadi ngerti. Alhasil, nggak masalah kalau beliau mau menulis seperti itu hehe.

    Saya juga setuju dengan artikel ini. Kalau yang dipikirkan pasar "terus", yang ada nggak jadi-jadi nulis. Sayang banget, padahal idenya bisa saja menarik bagi orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup.. memang latar belakangnya juga mendukung keberhasilannya.

      Kita ga sama dengan dia dan punya jalan sendiri. Tetapi, bukan ga mungkin kan suatu waktu kita menyamainya?

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel