Setiap Tulisan Pasti [HARUS] Memiliki Struktur

Setiap Tulisan Pasti Memiliki Struktur

Pernahkah menyadari bahwa setiap hasil karya tulis itu memiliki pola dan struktur di dalamnya. Bukan cuma karya tulis resmi seperti skripsi, laporan, atau yang sejenisnya, tetapi semua karya tulis.

Bahkan karangan anak SD sekalipun sudah memiliki pola itu. Setiap karya tulis adalah sebuah rangkaian kata dan kalimat yang terstruktur. Tidak mungkin tidak.

Dasarnya, struktur sebuah tulisan  harus seperti ini :

  1. Pembukaan
  2. Isi
  3. Penutup
Sesederhana itu? Ya, memang dasarnya sederhana sekali.

Tidak ada sebuah karya tulis tanpa "pembukaan" dan tidak mungkin pula tidak "berakhir". Kegiatan menulis adalah bagian dari kehidupan manusia dan tidak terlepas darinya. Maka kodrat-kodrat alami seperti "Ada awal dan ada akhir" juga mengikat.

Yang membuat sebuah tulisan karya orang dewasa berbeda (terasa lebih enak dibaca) dibandingkan dengan tulisan anak SD (Sekolah Dasar) adalah tulisan orang dewasa "biasanya" memiliki struktur yang jelas. "Biasanya" (dalam kutip) bukan berarti selalu.

Karena memang itulah dasarnya. Sebuah tulisan yang baik biasanya akan membuat pembacanya "melihat/merasakan" hal itu saat membaca. Tulisan yang tidak baik, alias tidak enak dibaca, mayoritas disebabkan karena pembaca tidak merasakan struktur karangan.

Mengapa demikian? Karena struktur tulisan yang jelas akan mempermudah otak pembaca mengikuti runtutan informasi yang hendak disampaikan. Hal ini akan membantu perpindahan "ide" dari kepala si penulis ke kepala si pembaca dengan mulus. Struktur yang tidak jelas akan membuat otak pembaca harus hilir mudik sibuk mencari dibandingkan menyerap informasi yang disampaikan.

Semakin baik strukturnya, biasanya, semakin baik pula tulisannya. (Biasanya yah, karena sebenarnya masih banyak hal lain yang mempengaruhi).


Jika seseorang ingin menjadi seorang penulis yang baik, maka ia harus mampu menyajikan idenya dalam bentuk tulisan yang memiliki struktur yang jelas. Ia harus terus menemukan cara agar pembacanya bisa mengetahui mana bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir.


Bukan berarti harus dipisah-pisahkan dalam bentuk Sub-Judul. Sub-Judul hanya merupakan salah satu teknik saja, bukan keharusan. Hal seperti itu hanyalah merupakan pengembangan dari struktur dasarnya, awal, isi, dan akhir saja. Tanpa sub-judul pun, jika sebuah tulisan ditulis dengan baik, maka pembaca akan "menemukan" strukturnya dengan mudah.


Mau panjang, mau pendek, semua harus mengacu pada struktur dasar. Jika panjang tetapi strukturnya jelas, ya no problem. Pendek tetapi tanpa struktur yang jelas, ya pembaca akan tetap susah menangkap isinya. Begitu juga sebaliknya.

Itulah mengapa seorang penulis harus terus berusaha memastikan tulisannya memiliki struktur yang jelas.

Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa hal sederhana, seperti
  • Penggunaan Sub Judul (terutama untuk tulisan yang panjang)
  • Membuat 1 paragraf pembuka dan 1 paragraf penutup
  • Menyempitkan ide karena semakin sempit sebuah ide, maka semakin mudah dibuatkan strukturnya, semakin lebar sebuah ide, maka semakin sulit dan rumit strukturnya
  • Membuat kerangka karangan, walau bukan keharusan karena penulis yang sudah berpengalaman, bahkan tanpa membuatpun bisa menghasilkan tulisan terstruktu
Mudah dikatakan, dan memang tidak sulit menuliskan hal-hal seperti di atas, tetapi pada kenyataannya, sulit dilakukan. Butuh banyak latihan dan ketekunan untuk menghasilkan tulisan dengan struktur yang jelas. Akan banyak "trial and error" dalam perjalanannya.

Saya pun masih terus belajar untuk membuat struktur tulisan menjadi jelas. Padahal, sudah tiga tahun lebih saya menekuni dunia tulis menulis sebagai blogger.

Tulisan ini adalah salah satu hasil latihannya.

Entah apa sudah terstruktur dengan baik atau belum. Namanya juga baru belajar.

Bagaimana menurut Anda?

2 Responses to "Setiap Tulisan Pasti [HARUS] Memiliki Struktur"

  1. saya jadi ingat saat2 awal ngeblog baik di khasiat jitu maupun di ASIK PEDIA, Menggunakan gaya pembuka dan penutup seperti pidato, ternyata kesannya terlalu formal dan penuh basa basi.

    Saya lebih suka mencontoh gaya pembuka dan penutup ala Pak Anton yang cukup luwes itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang gaya pidato atau guru terkesan formal.. kebetulan saya males digurui dan menggurui. Jadi tidak saya pergunakan.

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel