Menulis Bisa Jadi Kebutuhan, Lalu Mengapa Tidak Boleh Menulis Tiap Hari?


Foto patung setan sedang meringis ini bukan ditujukan untuk anda lo!. Sungguh sama sekali tidak dimaksudkan untuk itu. Sebenarnya foto ini dipajang di tulisan ini untuk mencibir beberapa blogger "sukses" di Indonesia.

Bukan karena iri akan kesuksesan mereka, tetapi karena kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa menulis setiap hari itu adalah sebuah kesalahan. Pernyataan sembrono yang kemudian diikuti oleh para pembebeknya yang ikutan menjiplak dan mengatakan hal yang sama, dengan gaya tulisan yang berbeda.

Tidak lah, saya tidak iri pada "kesuksesan" yang sudah mereka raih, itu rejeki mereka dan tentu saja hasil kerja keras mereka. Saya menghargainya justru.

“Bagi saya membaca dan menulis itu bukan hobi, tapi kebutuhan.” ~ Helvy Tiana Rosa

Tetapi, tidak ketika mereka menyalahkan sesuatu tanpa dasar yang pasti.

Bagi para internet marketer, mungkin yang menjadi tujuan mereka adalah agar tulisan mereka laku dan semakin banyak dibaca orang. Oleh karena itu mereka harus bisa tampil "profesional", atau setidaknya terlihat begitu dengan menyalahkan jalan yang dilalui orang lain dan menonjolkan diri sendiri.

Mungkin juga karena mereka sebenarnya terlalu malas menulis setiap hari, lalu mereka mengatakan orang lain yang melakukan kesalahan. Maybe, perhaps. Tidak tahu juga.

Tetapi, jelas sekali bahwa mereka adalah sebenarnya yang salah.

Realitanya, di dunia ini banyak orang yang tidak melakukan sesuatu hanya karena ingin tenar, dikenal, dan sukses. Banyak yang melakukannya karena mereka menikmati prosesnya. Tidak terhitung yang merasa bahagia menjalani detik demi detik dan tahap demi tahap apa yang mereka kerjakan.

Sulit untuk menghitung mereka yang melakukan sesuatu karena mereka merasakan "kepuasan" dan "kebahagiaan" saat melakukannya.

Bagi seorang blogger yang membangun blognya untuk menjadi media penyaluran pemikiran, ide, pandangan, dan apa yang ada di dalam dirinya, pembaca tidak selamanya menjadi pendorong kunci.

Niatnya sangat berbeda dengan apa yang selalu dipikirkan oleh para internet marketer, yaitu trafik, trafik, dan trafik.

Tidak selalu demikian.

Mungkin, bila seorang blogger memang bertujuan untuk :"tenar" hal itu akan terus bergayut di kepala, bahkan saat ia menulis. Tetapi, bagi mereka yang tujuannya mendapatkan kebahagiaan saat menggerakkan jari jemari di atas keyboard komputer, maka kata pengunjung atau pembaca bahkan tidak akan terlintas sama sekali.

Desakan untuk mendapatkan kembali rasa bahagia dan gembira di saat menumpahkan apa yang terpikirkan, atau imajinasi, merupakan tujuan utama, bukan pada jumlah pembaca. Kesuksesan bagi kalangan ini adalah kegembiraan.

Bagi kalangan blogger seperti ini, menulis adalah sebuah kebutuhan. 

Lalu, bisakah mereka dianggap melakukan kesalahan?

Tentu tidak.

Menulis, ngeblog, adalah sebuah dunia demokratis. Tidak seorang pun berhak memonopoli dan merasa menjadi atasan bagi atau lebih benar dari yang lain. Kebebasan berlaku dalam bentuknya yang mendekati titik ekstrim disini.

Mengatakan orang lain smelakukan kesalahan adalah sebuah kesalahan. Cerminan dari sepasang mata yang dipasangi kacamata kuda dan hanya bisa melihat ke satu sisi saja. Perwujudan dari kesempitan cara berpikir.

Untuk itulah, foto patung setan menyeringai ini dipasang pada tulisan ini. Bukan pada Anda pembaca, kecuali Anda juga blogger yang berpandangan bahwa menulis setiap hari adalah kesalahan. Seringai ini diberikan pada mereka, para blogger yang menyempitkan dunia menulis menjadi seluas celana kolor daun kelor.

0 Response to "Menulis Bisa Jadi Kebutuhan, Lalu Mengapa Tidak Boleh Menulis Tiap Hari?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel