Tips #1 : Hindari Penggunaan Kalimat (Terlalu) Panjang


Kalimat (terlalu) panjang itu seperti apa? Mengapa harus dihindari?

Mari kita coba sedikit melihat alasannya dalam bentuk sebuah contoh.

Perhatikan kalimat di bawah ini :

"Pak Indro yang seorang direktur sekaligus sering nyambi sebagai dosen di sebuah universitas terkenal di Jakarta yang merupakan tempat bersekolah artis cantik, Chelsea Islan, memiliki dua orang anak yang juga bersekolah di universitas dimana ia mengajar."

Bagaimana menurut Anda?

Apakah Anda bisa menangkap makna kalimat yang sesungguhnya dari kalimat yang terdiri dari 36 kata tersebut?

Sulit bukan?

Bandingkan dengan yang dibawah ini

"Pak Indro adalah seorang direktur. Ia juga bekerja sambilan sebagai dosen di sebuah universitas di Jakarta dimana artis cantik, Chelsea Islan bersekolah. Ia memiliki dua orang anak yang juga belajar di universitas dimana ia mengajar."

Kira-kira mana yang lebih enak dibaca dan lebih mudah dimengerti?

Saya yakin Anda akan memilih contoh kedua. Tidak diragukan lagi.

Padahal jumlah katanya hampir sama. Contoh kedua memiliki 35 kata di dalamnya.

Lalu mengapa contoh yang kedua lebih mudah dimengert?

Anda tentu sudah bisa menjawabnya.

Betul sekali.

Contoh pertama terdiri dari kalimat panjang, contoh kedua, kalimat panjang itu dipenggal menjadi 3 kalimat yang lebih pendek.

Nah, itulah yang kita coba bahas mengapa penggunaan kalimat panjang atau terlalu panjang perlu dihindari.

Mengapa contoh pertama memerlukan waktu lebih lama untuk dimengerti?

Sederhana.

1) Subyek - Predikat- Obyek


Pembaca memerlukan waktu untuk menemukan inti sebuah kalimat. Mereka sulit menemukan Subyek - Predikat - Obyek yang ada di contoh pertama.

Padahal keberadaan ketiganya lah yang menentukan makna dari sebuah kalimat.

Memang contoh pertama hanya berupa satu kalimat saja, tetapi ia memiliki beberapa anak kalimat.

Setiap anak kalimat akan memiliki lagi Subyek, Predikat dan Obyek . Jadi dalam satu kalimat itu ada beberapa subyek, predikat, dan obyek.

Semua tercampur menjadi satu.

Otak manusia memerlukan waktu untuk memilah mana yang utama dan mana yang penunjang.

Walau akhirnya seseorang bisa menemukan intinya, akan diperlukan waktu beberapa detik.

Hal ini tidak terjadi di contoh kedua. Pembaca lebih mudah menemukan unsur kalimatnya. Untuk mencerna satu kalimatnya akan lebih cepat.

2) Memerlukan Pemilahan

Contoh pertama kalau diandaikan seperti seorang penjual telur menyuruh pembelinya memilih telur yang mau dibelinya sendiri.

Dengan keterbatasan pengetahuan tentang telur, maka ia akan memerlukan waktu untuk membedakan telur yang baik atau tidak.

Bandingkan dengan sebuah supermarket dimana telur sudah dikemas. Pembeli hanya perlu mengambil.

Itulah contoh kedua.

Pada contoh ini pemilahan sudah dilakukan oleh penulis sehingga pembaca bisa tinggal menyerapnya.

3) Mata Manusia tidak beda dengan telinga

Kalau kita mendengar seseorang berbicara "nyerocos" tak henti, rasanya sulit menangkap apa yang mau disampaikan.

Sama seperti komputer otak pun perlu waktu mengolah data yang disampaikan oleh telinga.

Kalau terlalu cepat dan tanpa jeda, masuknya data tidak akan bisa diimbangi sistem pemrosesan.

Begitu juga dengan mata.

Ia tetap memerlukan jeda agar data yang dikirimnya tidak berlebihan.

Contoh pertama, yang tanpa jeda, seperti memberikan data tak henti ke otak. Akibatnya, data yang diterima harus menunggu antrian untuk diproses.

Mengapa artikel panjang atau terlalu panjang sebisa mungkin harus dihindari?

Saya tidak bilang tidak boleh dipakai.

Terkadang, terutama dalam penulisan sebuah karya ilmiah, atau laporan penggunaannya diperlukan.

Meskipun demikian, terus menerus menggunakan kalimat panjang atau super panjang bisa menyebabkan beberapa hal berikut:


1) Pembaca salah menangkap maksud kalimat


Tidak semua orang terbiasa memilah posisi induk kalimat dan anak kalimat dengan baik. Kalau dosen atau mahasiswa mungkin terbiasa, tetapi masyarakat umum belum tentu.

Begitu juga dengan orang yang sedang terburu-buru. Mana ada waktu untuk memilah secara teliti. Ketika matanya menemukan kata-kata kuncinya, maka ia langsung membuat asumsi tentang maknanya.

Salah mengerti/tangkap sangat mungkin terjadi.

2) Melelahkan


Jelas sekali.

Kalau seluruh artikel terbuat dari kalimat (terlalu) panjang, maka pembaca akan cepat lelah. Mata dan otaknya akan bekerja lebih keras untik melakukan pemilahan dan pemrosesan data.

Ujungnya, sang pembaca akan lebih cepat merasa lelah.


3) Membosankan


Pernah terpikir mengapa skripsi atau dokumen resmi atau hukum terasa membosankan?

Salah satu alasannya adalah kalimat panjang atau terlalu panjang sering dipergunakan dalam pembuatannya.

Sudah topiknya tidak menarik, kalimatnya panjang-panjang, gaya bahasa resmi, pantas dipergunakan untuk obat tidur.

Kalau tidak terpaksa atau butuh, kebanyakan orang akan menghindari membaca yang seperti ini.

4) Semakin besar kemungkinan kesalahan penulisan


Mau tidak mau. Suka tidak suka.

Semakin panjang tulisan semakin banyak komponen kalimat yang harus dipikirkan arti, posisi, dan fungsinya.

Semakin banyak hal yang harus dipikirkan, semakin besar peluang untuk melakukan kesalahan.

Kesalahan bisa berbentuk salah penempatan kata, salah memakai kata sambung, hingga salah penulisan.

Semakin banyak kesalahan dalam sebuah artikel dibuat semakin sulit dan tidak mengenakkan untuk dibaca.

Oleh karena itu, sering para dosen mencoret-coret sebuah draft skripsi. Biasanya, banyak mahasiswa yang melakukan kesalahan ketika menggunakan kalimat panjang.


Nah, bila Anda seorang yang sedang mencoba mencari nama dalam dunia menulis, empat hal ini tentu harus dihindari.

Apalagi blogger.

Para pembaca internet bukan orang yang sabaran. Mereka tidak akan membaca kata per kata untuk memahami maksud sebuah kalimat. Kalau ia tidak menemukannya segera, maka ia hanya perlu menekan tombol back untuk kemudian mencari yang lebih mudah.

Jadi, penggunaan kalimat panjang dan super panjang, sebisa mungkin harus diminimalir.

Bukan tidak boleh, tetapi jangan terlalu banyak. Kombinasikan dengan kalimat-kalimat pendek agar tidak menghasilkan kebosanan.

Kalimat panjang dan terlalu panjang


Seperti apa sih sebenarnya kalimat panjang atau terlalu panjang itu?

Pertanyaan yang bagus.

Saat ini dalam bahasa Indonesia belum ada tolok ukur untuk mengukurnya. Belum ada alat untuk tujuan tersebut.

Tetapi.

Bahasa Inggris memilikinya.

Alat itu bernama Flesch Reading Ease. Alat ini diciptakan untuk Angkatan Darat Amerika Serikat beberapa puluh tahun yang lalu. Tujuan pembuatannya adalah untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah dokumen di dinas tersebut.

Alat itu kemudian digunakan oleh banyak pihakndi luar dinas ketentaraan. Saat ini, para blogger yang menggunakan wordpress self hosted otomatis akan menemukannya kala meng-instal Yoast SEO.

Nah, singkatnya alat ini akan secara otomatis menganggap kalimat dengan lebih dari 12 kata sebagai panjang.

Tentunya, hal itu tidak bisa diterapkan langsung ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa tidak bisa disamakan. Banyak faktor lain, seperti kebiasaan dan budaya berbahasa harus diperhitungkan.

Kalau berdasarkan pengalaman, sebuah kalimat dengan

A) 15-18 kata - normal
B) 19-25 kata - kalimat panjang
C) > 25 kata - terlalu panjang

Kalimat jenis C akan lebih sulit dipahami dari yang A.

Mengapa tulisan ini dibuat adalah karena saya melihat bahwa blogger Indonesia gemar sekali menggunakan kalimat panjang. Tidak jarang super panjang.

Hal ini tidak mengherankan karena orang Indonesia terkenal suka berbasa basi. Karakter seperti itu tercermin ketika mereka menulis.

Hasilnya, bahasa Indonesia termasuk salah satu bahasa di dunia yang memiliki ciri kalimat panjang. Di dalam satu kalimat sering terdapat 3-4 anak kalimat.

Satu lagi bahasa di dunia dengan ciri yang sama adalah bahasa Jepang.

(Kebetulan saya orang Indonesia dan pernah kuliah di Fakultas Sastra Jepang)

Tips melatih menghindari kalimat (terlalu) panjang

Ada beberapa cara untuk melatih diri menghindari penggunaan kalimat (terlalu) panjang. Saya sudah melakukannya juga.

1. Tetapkan batasan kalimat panjang atau super panjang menurut Anda. Bisa juga memakai teori saya, yaitu 15-18 kata

2. Ketika menulis, lalu merasa ada kalimat yang terlalu panjang, hitung kata perkata. Kalau melebihi 18, pecah menjadi dua kalimat

3. Pergunakan hanya 1 kata seperti yang, bahwa, tetapi, atau dimana di dalam kalimat. Kata-kata ini menunjukkan adanya anak kalimat. Jadi dengan hanya memakai 1, berarti dalam satu kalimat hanya akan ada maksimum 1 anak kalimat.

4. Pergunakan tanda koma sebagai pengganti kalimat. Contohnya seperti di bawah ini :

"Pak Indro, seorang direktur, juga merupakan seorang dosen di sebuah universitas di Jakarta tempat Chelsea Islan belajar."

Dengan begitu kalimat bisa lebih singkat.

Nah, itulah tips menghindari penggunaan kalimat (terlalu) panjang.

Sebagai bukti hasil latihan ini, silakan hitung juga, ada berapa kalimat yang melebihi 18 kata pada artikel ini.


0 Response to "Tips #1 : Hindari Penggunaan Kalimat (Terlalu) Panjang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel