Hindari Mentalitas Instan Dalam Dunia Menulis (Semua Butuh Proses)


Apa sih sebenarnya "mentalitas instan" itu? Mengapa harus dihindari?

Kalau itu pertanyaannya, saya akan puji Anda untuk mengemukakannya. Istilah ini semakin sering terdengar dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tidak semua orang memahami dengan benar maknanya.

Seringnya, istilah ini akhirnya tercampur aduk dengan kata terburu-buru.

Tidak salah seratus persen, tetapi tidak bisa disebut benar juga.

Kita bayangkan seorang yang terlambat bangun, kemudian ia bergegas meninggalkan tempat tidurnya, kemudian tanpa mandi ia berangkat ke kantor. Itu terburu-buru, dan bukan sesuatu yang menunjukkan mentalitas instan. Semua orang pasti pernah mengalami kondisi seperti ini pada suatu waktu.

Nah, lalu seperti apa yang disebut "mentalitas instan" itu?

Mentalitas instan


Pernah makan mi instan?

Pastilah! Mengherankan kalau ada orang yang berkata belum pernah sekalipun makan penganan yang satu ini. Di Indonesia bisa dikata mi instan sudah menjadi salah satu makanan "pokok".

Apa yang Anda pikirkan ketika melihat makanan ini? Kesan apa yang ada di kepala?

Tiga kata!

Cepat :

Yap. Mi instan memang lahir dari pemikiran agar sebuah makanan bisa disajikan dengan cepat. Tujuannya agar perut yang kosong bisa diisi tanpa harus mengganggu aktifitas keseharian.

Apalagi?

Mudah :

Itu kata kedua terkait mi instan. Pembuatannya akan memakan waktu kurang dari tiga menit. Targetnya sama. Untuk menghasilkan sebuah makanan dalam waktu singkat tidak bisa memakai tehnik yang rumit.

Murah :

Kata terakhir. Mi instan juga harus mudah didapat. Ia dianggap memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan sebuah makanan yang diproses secara normal. Karena itu, nilainya selalu berada di bawah makanan yang diproses atau dijual dengan proses masak biasa.

Lalu, apa kaitan mi instan dengan mentalitas instan?

Keduanya berbasis pada pemikiran atau ide dasar yang sama. Cepat, mudah murah.

Seseorang yang memiliki mentalitas instan, atau kerap disebut pola pikir instan, biasanya berpikir dengan menggunakan tiga kata tersebut.

Dalam segala hal.

Ini yang membedakan seorang yang "terburu-buru" dengan seorang "bermental instan".

Seorang yang sedang terburu-buru tidak melakukannya setiap hari. Oleh karena itu ia bergegas karena merasa ada sesuatu yang salah.

Sedangkan, seorang dengan mentalitas instan tidak akan merasa dirinya salah. Menurut dia, semuanya harus seperti itu. Oleh karena itu ia akan berusaha mencapai tujuannya dengan landasan ketiga cara tersebut tadi. Tidak peduli bagaimana caranya.

Contoh mentalitas instan


Sebagai contoh, seorang calon penyanyi. Proses standar menjadi penyanyi terkenal adalah bersuara bagus, memiliki tehnik vokal yang baik, memiliki ciri khas yang selalu diingat orang, dan lain sebagainya.

Kesemua itu tidak akan bisa diraih dengan mudah. Coba saja tanyakan Vina Panduwinata atau Ruth Sahanaya berapa lama waktu berlatih olah vokal. Berapa lama sejak ia mulai menyanyi sehingga namanya terkenal.

Sudah pasti butuh kerja keras bertahun-tahun.

Bandingkan dengan penyanyi bermental instan. Ia akan merasa semua itu terlalu lama, merepotkan, tidak praktis.

Alih-alih berlatih olah vokal, ia bisa memilih membayar tim promosi untuk secara gencar mempromosikan namanya. Ia akan berusaha agar dirinya tampil di media massa agar dilihat khalayak ramai. Seringnya bahkan tentang sesuatu yang tidak terkait dengan dunia tarik suara. Menjadi tokoh dalam sebuah berita skandal pun tidak akan ditolaknya.

Itulah contoh mentalitas instan.

Cepat, mudah, murah diinterpretasikan harus dicapai dengan cara apapun. Semua jalan akan dianggap halal selama hasil yang diinginkannya terpenuhi.

Apa yang salah dari mentalitas instan?

Masih terkait analogi mi instan (atau bisa juga kopi instan kalau Anda mau pakai) di atas.

Cepat. Iya

Mudah. Memang.

Murah. Tidak disangkal.

Tetapi, ada sesuatu yang hilang sebenarnya.

RASA.

Mi instan adalah makanan. Kalau bicara mengenai hal yang satu ini, seharusnya kita juga menjelaskan tentang RASA yang dimilikinya. Tetapi, mengapa dalam hal mi instan, rasa jarang diperbincangkan. Mengapa para penggemar kuliner, hampir tidak pernah menuliskan review tentang mi instan?

Anda tentu bisa menjawabnya, bukan begitu?

Ya. Rasa dari mi instan adalah biasa saja. Disebut enak tidak. Disebut tidak enak juga tidak. Just, biasa saja.

Tidak mengherankan sebenarnya. Mi instan tidak dibuat dengan menghitung unsur rasa dalam kalkulasinya. Makanan ini dibuat sesederhana mungkin, semudah mungkin, semurah mungkin. Makanan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan minimum dan bukan makanan utama.

Jangan harapkan mi instan menjadi istimewa karena makanan ini dibuat dengan mengandalkan pola keseragaman agar mudah diproduksi masal. Pembuatannya berdasarkan pada prinsip copy-paste.

Tidak akan banyak variasi. Makan mi instan rasa ayam bawang di Jakarta dengan di Merauke tidak akan berbeda.

Sekarang, bayangkan ketika Anda membaca sebuah tulisan yang dibuat berdasarkan sistem yang sama. Seragam.

Semangkuk mi instan akan membuat Anda kenyang? Tetapi, akankah Anda ingin terus menerus memakannya? Akankah membuat Anda ingin mencoba lagi dan lagi? Kemungkinan tidak, kecuali kepepet.

Begitu pula, dalam dunia tulis menulis.

Sebuah tulisan yang dibuat dengan berlandaskan pada mentalitas instan sulit memiliki sesuatu yang istimewa, berkarakter, dan menimbulkan kesan mendalam. Sulit untuk menjadi menonjol dan menarik perhatian.

Kalau tidak percaya, coba saja ada 5 mangkuk mi instan dan 1 mangkuk mi goreng ala bakmi Gajah Mada. Yang mana kira-kira yang akan Anda pilih?

Kemungkinan besar bakmi Gajah Mada yang akan Anda pilih.

Bukan kah begitu?

Itulah mengapa membuat tulisan dengan landasan mentalitas instan tidak akan membuat artikel tersebut menonjol. Semuanya biasa saja. Semuanya tidak berbeda.

Padahal sebuah artikel akan menarik justru bila tulisan tersebut memberikan imaga atau impresi berbeda dibandingkan yang lain. Tanpa terlihat berbeda, sulit untuk membuat orang ingin membacanya lagi dan lagi.

Dalam hal ini mentalitas instan seorang penulis akan tercermin dalam tulisannya yang monoton, biasa, dan tidak istimewa. Pembaca akan merasa "cukup" dengan membacanya satu kali saja. Kalau tidka terpaksa karena tidak ada pilihan lain, ia tidak akan mau mengulanginya.

5 Alasan Mengapa Mentalitas Instan Harus Dihindari

Mi instan atau kopi instan sekarang justru tidak digemari, lalu kenapa mentalitas instan tidak boleh dipakai dalam dunia tulis menulis? Toh buktinya makanan instan bisa laku.

Betul juga. Sama sekali tidak salah. Itu sebuah kenyataan dalam masyarakat dewasa ini.

Kalau begitu, boleh kah saya menganjurkan Anda untuk makan mi instan terus? 

OK lah. Stop berhenti bicara mi instan.

Di paragraf-paragraf awal ada beberapa kata yang saya besarkan pada bagian yang memberikan contoh tentang kecenderungan tindakan orang dengan pola pikir instan.

CEPAT. MUDAH. MURAH. DALAM SEGALA HAL.

Seseorang dengan pola pikir seperti ini akan mengedepankan hasil, tanpa melihat prosesnya. Ia bisa menghalalkan semua cara demi tercapainya tujuan.

Salah satu hal yang paling disukai penulis seperti ini adalah melakukan

1) Copy-paste

Karena ia ingin cepat tenar, maka ia tidak segan mengambil tulisan milik orang lain.,Biasanya tulisan atau artikel yang banyak dibaca orang, dan kemudian mengakuinya sebagai hasil karyanya.

Plagiat.

2) Memakai article spinner

Susah mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia untuk "article spinner".

Artinya lebih kurang adalah perangkat lunak tertentu untuk merubah beberapa kata dalam sebuah artikel dengan sinonimnya.

Tujuannya agar artikel tersebut, entah milik sendiri atau orang lain, agar lolos dari sebutan copy-paste alias plagiat. Juga agar mesin pencari menganggapnya sebagai artikel baru.

Mesin peniru. (Cocok tidak ya?)

Masuk wilayah abu-abu.

Meskipun demikian, efeknya sangat buruk bagi seorang penulis. Ia akan segera kehilangan kreatifitas dalam menulis karena ia sama sekali tidak menulis. Ia menjadi operator saja dan tulisannya bukan hasil pemikiran atau kerja kerasnya.

Sulit untuk berkembang kalau hanya bisa meniru. Dunia menulis adalah dunia kreatifitas dan kalau kreatifitas mati, maka seorang penulis, atau blogger akan kehilangan inti dari kegiatannya.

3) Kehilangan karakter dan ciri khas

Sebuah tulisan akan membawa karakter dari yang menulis. Tidak mungkin tidak. Biasanya dalam bentuk gaya menulis.

Gaya menulis inilah yang meninggalkan kesan terhadap para pembaca. Sesuatu yang membuat mereka teringat akan apa yang dibacanya. Sesuatu yang bisa membuat mereka ketagihan dan kembali membaca karya lain penulisnya.

4) Menghabiskan waktu

Karena ingin cepat tenar dan tidak sabar akan perkembangan blognya, tidak jarang blogger atau penulis berusaha mempercepatnya dengan membaca berbagai trips dan trik.

Mereka berusaha menemukan jalan pintas menuju kesuksesan.

Kalau trik yang satu tidak berhasil, maka ia akan berusaha mencari trik lain yang dianggap lebih ampuh. Kalau gagal lagi, cari lagi hingga apa yang ditargetkannya terwujud.

Terserah juga sih, kalau memang itu jalan yang dipilih.

Tetapi, bukankah lebih baik waktunya dipergunakan untuk menulis, menulis, dan menulis? Kalau waktu yang dipergunakan mencoba berbagai trik itu dialihkan untuk membuat artikel, jelas akan semakin banyak tulisan yang diproduksi.

Semakin banyak artikel , bukankah berarti kita menjadi lebih maju?

5) Gampang Mengeluh dan Mutung

Kalau sudah melakukan semua usaha, baik yang halal atau tidak, ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan, seorang dengan mentalitas instan, cenderung untuk MUTUNG.

Dalam bahasa Jawa artinya mirip dengan ngambek dan tidak mau melakukan apa-apa kalau kemauannya tidak dipenuhi.

Mirip anak kecil.

Penulis dengan pola pikir seperti ini akan segera berhenti jadi penulis. Ia akan berhenti ketika merasa semuanya tidak sesuai dengan kemauan atau targetnya.

Menyerah.

Padahal kenyataannya, perjuangan menjadi penulis atau blogger terkenal itu sangat panjang. Contohnya LInda Ikeji,, seorang wanita Nigeria yang menjadi panutan sebagai blogger sukses dimana-mana, membutuhkan tidak kurang dari 5 tahun sebelum meraup hasilnya.



Begitu juga Darren Rowse pemilik Problogger. Herman Yudiono, pendiri Blogodollar.

Semuanya melalui jalan yang panjang dan berliku.

Tidak secara instan. Sesuatu yang akan sulit dilalui seseorang yang memiliki mentalitas instan.


Itulah 5 alasan mengapa mentalitas instan harus dihindari dalam dunia menulis. Terlalu banyak keburukannya dibandingkan hasilnya.

Semua Butuh Proses

Untuk mencegah mentalitas instan merasuki diri kita, caranya sederhana saja.

Sangat sederhana dan mudah untuk diucapkan. Kita harus sadar bahwa :

SEMUA BUTUH PROSES!

Bahkan untuk membuat mi instan saja masih perlu 3 menit. Kalau kurang dari itu mi-nya masih agak keras dan tidak enak untuk dikunyah. Kasihan gigi dan perut Anda.

Bagaimana dengan menulis?

Lebih panjang. Lebih banyak tahap. Lebih banyak masalah.

Menulis lebih mirip proses yang dilakukan di pabrik dibandingkan dengan cara memasak mi instan-nya sendiri 

Kesadaran ini akan membantu kita, sombong dikit boleh yah, penulis atau blogger bahwa kerja keras dan kerja cerdas dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan kita untuk sukses.

Tidak ada jalan pintas.

Ingat saja NO PAIN NO GAIN. Tidak ada hasil kalau Anda tidak mau bersusah payah.

0 Response to "Hindari Mentalitas Instan Dalam Dunia Menulis (Semua Butuh Proses)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel