[Wordpress] Cara Memasang Auto Ads Dengan Mudah Tanpa Kode

Auto Ads, jenis iklan baru yang dirilis Google Ads sejak Februari 2018 menambah satu lagi opsi jenis iklan yang ditujukan selain untuk menambah pendapatan juga untuk mempermudah hidup para publisher.

Bisa dikata, "iklan" ini bukanlah jenis iklan baru, tetapi sebuah setting yang merupakan gabungan dari berbagai jenis iklan yang sudah ada. Keistimewaan iklan ini adalah publisher tidak lagi perlu melakukan penempatan iklan secara manual. Yang perlu dilakukan para publisher sebatas membuat setting di dashboard Adsense dan memasukkan kode (yang tidak panjang) ke dalam website atau blog yang dimilikinya.

Bagi para pengguna Wordpress Self hosted hal tersebut dipermudah lagi karena sudah ada plug in yang bisa memasang Auto Ads tanpa harus memasukkan kode apapun. Cukup dengan satu dua klik saja, maka Auto Ads sudah aktif di web.

Nama plugin ini adalah Adavanced Ads.


Caranya adalah ;

1. Login ke dashboard website/blog Anda
2. Masuk ke menu Plugin
3. Add New
4. Ketikkan Nama "Advanced Ads"
5. Install dan kemudian Activate ==> Opsi Advanced Ads akan ditambahkan ke dashboard

Lalu, sebelum melakukan setting plugin ini, pastikan dulu setting Auto Ads sudah dilakukan di dashboard Adsense. Pastikan jenis iklan yang boleh tayang di blog sudah diaktifkan dan yang tidak ingin dihadirkan, pastikan dalam posisi off.

Jangan lupa, ambil publisher id Adsense Anda karena akan diperlukan untuk mengaktifkan.


6. Setelah melakukan setting, masuk kembali ke dashboard blog Anda
7. Pilih Advanced Ads ==> Setting
8. Pilih Tab Adsense
9. Contreng kotak kosong di sebelah tulisan "nsert the AdSense header code used for verification and the Auto Ads feature.This code might also activate Auto ads. Please read this article if ads appear in random places."
10. Save dan Selesai

Iklan butuh waktu untuk tampil, tetapi berdasarkan pengalaman mencoba, butuh 2-3 jam sebelum iklan bisa mulai muncul.

{Saya sendiri sedang baru coba memakainya dan hasilnya belum tahu apakah ada peningkatan atau tidak.}

Perlukah Submit Ulang Sitemap Setelah Publish Artikel Baru

Disitulah saya merasa bingung sekaligus mengerti. Iseng-iseng jalan-jalan ke Forum IAPD (Indonesia Adsense Publisher Discussion) lagi setelah check out cukup lama, ternyata tetap saja ada yang menanyakan sesuatu yang tidak perlu ditanyakan. Bukan merasa sok pinter, tetapi kalau begini terus, dunia blogging Indonesia itu tidak akan berkembang. Kok yah yang begitu saja pakai ditanyakan.

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan oleh seorang member, kemungkinan besar masih baru. Intinya "Apakah perlu submit ulang sitemap setelah publish artikel baru?

Ini screenshootnya.

Perlukah Submit Ulang Sitemap Setelah Publish Artikel Baru

Padahal sudah dapat jawabannya dari Quora dan Moz, kok yah bertanya lagi kepada sesama member. Sebuah hal yang lucu karena Moz adalah salah satu blog yang terkenal dan dijadikan rujukan jutaan blogger dalam urusan SEO dan Website. Sebuah website yang sangat dipercaya untuk mengecek DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority )  website atau blog.

Banyak blogger Indonesia juga menggunakan Open Site Explorer buatan mereka.

Nah, ya ini kok justru ditanyakan ulang pada sesama blogger yang sebenarnya juga rasanya sering memanfaatkan jasa gratisannya si Moz.

Quora juga bukan sembarang website Tanya Jawab dan sudah banyak terbukti sangat membantu dalam memberikan informasi dan penjelasan.

Yah lucu saja. Logika yang terbolak balik. Mungkin karena mereka berpikir para master di IAPD memiliki kemampuan setara dengan pakar di Moz.
(Baca juga : Pertanyaan-pertanyaan bodoh bin konyol ini tidak akan membuat Anda menjadi blogger yang pandai)
Tetapi, anggaplah pertanyaan itu diajukan oleh seseorang yang benar-benar baru terjun dan masih kebingungan tentang siapa yang harus dipercaya. Jadi, lupakanlah dan anggap sebagai sebuah pertanyaan normal saja.

Jadi, mana jawaban yang seharusnya "Masih perlukah submit ulang sitemap setelah publish artikel baru?"

Saya tidak akan menggurui karena saya bukan guru dan menolak menjadi guru. Saya hanya teman yang berbagi apa yang saya tahu dan alami saja.

Pengalaman saya mengatakan :

Tanpa mengirimkan (submit) sitemap ke Google Webmaster Tool (GWT) pun, sebuah website dan artikelnya akan diindex oleh Google dan mesin pencari lainnya

Lo kok bisa? Ya bisa!

Bisnis mesin pencari itu bergantung pada database/index yang dimiliki oleh setiap mesin pencari. Semakin besar databasenya semakin bagus dan baik bagi bisnis mereka. Hal itu berarti mereka memiliki sumber informasi yang luar biasa besar.

Oleh karena itu, para pengusaha "mesin pencari (Search Engine)" akan selalu menyebarkan "robot" mereka berkeliling di dunia maya untuk mengoleksi data-data dari semua website yang ada. Mereka mengoleksi informasi dalam bentuk "link".

Jadi, kalaupun kita tidak mengirimkan sitemap sama sekali, website atau blog kita akan tetap diindex oleh merea.

Ada beberapa pengalaman yang saya alami selama mengelola blog berbasis Wordpress Self Hosted ataupun Blogspot yang menunjukkan hal itu, yaitu :

  • Nggak pernah minta diindex sama Yahoo, Bing, atau mesin pencari lainnya, tetapi pengunjung datang banyak juga dari mesin pencari saingan Google itu. Bahkan, cukup banyak juga artikel yang nangkring di halaman SERP (Search Engine Result Page) Yahoo dan Bing. Padahal saya nggak pernah submit sitemap apapun, terkoneksi saja tidak
  • Saya beberapa kali melakukan percobaan tidak mengirimkan sitemap sama sekali ke GWT kemudian mencoba mencari dengan cara "site:http://www.namadomain.com". Hasilnya keluar berbagai link dari blog yang tidak mengirimkan sitemap itu, pertanda Google melakukan indeks terhadap blog itu
Saya hanya sekali mengirimkan sitemap untuk setiap blog, yaitu pada saat saya membuat blog baru dan tidak pernah melakukan sbmit ulang sitemap, kecuali ada masalah (seperti kena hack). Hasilnya, ya semua artikel baru pun akan diindex.

Hanya yang berbeda adalah frekuensi dari kunjungan sang robot index itu sendiri. Tidak sama frekuensi kedatangannya. Kalau berdasarkan beberapa blog yang saya kelola, biasanya :

1. Blog/website yang berumur tua dan rajin diupdate akan sering sekali didatangi sang robot
2. Website yang belum tua tapi rajin diupdate, paling tidak sehari sekali disambangi
3. Blog sudah tua tapi jarang diupdate, beberapa hari sekali, kecuali kemudian rajin kembali diupdate
4. Blog baru, butuh waktu beberapa hari untuk didatangi/diindex

Jadi, semua blog atau website tetap diupdate. Saya tidak akan heran kalau blog zombie yang kelayapan tak bertuan pun tetap dikunjungi sesekali.

Jadi, kesimpulan yang diambil dari semua itu adalah, tidak perlu submit ulang sitemap setelah publish artikel baru. Menghabiskan waktu saja.

Perlukah difetch? Buat saya sih untuk apa? Biasanya fitur ini dipergunakan untuk melihat "apa yang dilihat oleh robot mesin pencari". Kalaupun kemudian ada menu tambahan minta diindex, sebenarnya tidak terlalu banyak efeknya kalau sudah ada sitemap.

Itu saja.

Cuma, saya maklum juga, kalau banyak blogger pemula mengikuti jejak para pakarnya yang selalu menyarankan kalau sudah publish artikel lakukan fetch, atau submit ulang sitemap supaya cepat "diindex" Google. Padahal, kalau mereka pun ditanyakan "berapa kali robot pencari datang setiap harinya" pasti juga tidak ada yang bisa jawab dengan pasti dan hanya dugaan saja, atau hanya apa yang mereka baca dan dengar saja.

Tidak perlu pusing soal sitemap karena GWT adalah pengumpul data untuk membantu para webmaster. Bukan barang ajaib yang bisa membuat blog Anda terkenal. Hanya data yang dikumpulkan oleh mesin pencari. Cara terbaik menggunakannya ada di kepala si blogger. Bukan disana.


Kunci Utama Meningkatkan Pendapatan Adsense : Trafik Pengunjung

Kunci Utama Meningkatkan Pendapatan Adsense : Trafik Pengunjung

Waduh. Bisa jadi kepala saya bakalan benjol karena dikemplangi para pakar Adsense dengan mengemukakan teori seperti yang tertera pada judul. Biarlah. Toh siapapun boleh berteori, iya nggak?

Lagipula, bagaimanapun dan meskipun saya belum terlalu terfokus pada menghasilkan uang lewat blog, saya adalah seorang publisher Adsense dan sudah cukup lama juga menyandang gelar itu. Hasil pengamatan selama dua tahun lebih dan juga pengalaman sebagai marketing, maka saya berkesimpulan bahwa kunci utama meningkatkan pendapatan Adsense adalah "trafik pengunjung".

Bukan berarti berbagai hal lain, seperti penempatan iklan atau mencoba memperbesar nilai BPK (Biaya Per Klik) itu tidak penting, tetapi, rasanya kalau tanpa trafik yang besar, maka hasilnya ya akan tetap recehan saja.

Coba saja perhatikan asumsi kecil di bawah ini :

Blog A
  • Pageview = 1000/hari
  • Klik = 1%
  • Nilai BPK = US$ 0,30
Blog B
  • Pageview = 100,000/hari
  • Klik = 1%
  • Nilai BPK = US$ 0,01 
Mana yang penghasilannya lebih besar? Jawabannya "blog B". Hitungan matematisnya

  • Blog A = 1,000 X 1% X US$ 0,30 = US$ 3/hari
  • Bog B = 100,000 X 1% X US$ 0,01 = US$ 10/hari
Disitu terlihat bahwa dengan variabel BPK yang 30 kali lebih kecil sekalipun, jika trafik pengunjung bisa lebih besar, maka penghasilannya tetap 3 1/2 kali lebih besar.

Tentunya ini hitungan sederhana saja dan memakai asumsi yang paling ekstrim. Tetapi, hal ini menunjukkan bahwa jumlah pengunjung sangat penting dalam usaha peningkatan pendapatan dari Adsense.

Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian para pemburu Adsense jika memang mereka mau pendapatannya terus naik dan naik. Fokus utama harus diarahkan pada bagaimana cara meningkatkan trafik pengunjung daripada bermain dengan mengutak atik penempatan iklan (untuk meningkatkan klik) atau mencari tips dan trik meningkatkan nilai BPK.

Mengapa demikian?

1. Penempatan iklan berkaitan dengan usaha mendapatkan klik iklan lebih banyak, dan itu sulit diprediksi dan diatur. Yang dilakukan hanyalah coba-coba. Faktor yang menyebabkan orang mengklik iklan sulit diketahui dan dipahami. Intinya sulit dikontrol dari sisi pemilik blog

2. Harga BPK adalah hasil dari sistem pelelangan iklan yang dilakukan antara pemasang iklan dan Google. Publisher tidak dilibatkan. Jadi, bagaimana mau bisa ikut mengontrol BPK. Teorinya banyak tetapi berdasarkan pengamatan angka naik turunnya luar biasa dan tidak stabil. Susah dikontrol oleh publisher.

Keduanya adalah faktor yang sangat sulit dikontrol oleh publisher. Tidak beda dengan harga cabe yang akan naik turun karena faktor pasar, tanpa bisa dikontrol oleh petani cabe.

Lalu, mengapa harus terfokus pada mencoba mengontrol sesuatu yang sulit dikontrol? Usaha melakukan itu akan membuang-buang waktu dan tenaga saja karena potensi berhasilnya sangat sulit diprediksi.

Sesuatu yang sulit diprediksi dan dikontrol, biasanya dalam dunia bisnis tidak akan ditempatkan pada prioritas utama untuk dilakukan. Yang biasa dilakukan para pebisnis adalah justru menyesuaikan diri dengan situasi yang ada (walau tetap berusaha mengubahnya secara perlahan ke arah yang menguntungkan).

Oleh karena itu, biasanya dalam perusahaan, faktor yang sulit dikontrol kalaupun harus dimasukkan dalam rencana, maka diletakkan pada rencana jangka panjang, bukan jangka pendek. Untuk jangka pendek, usaha untuk mendapatkan penghasilan difokuskan pada faktor yang bisa dikontrol, seperti produksi.

Teori dan teknik yang sama seharusnya diterapkan para blogger untuk mencoba menaikkan pendapatannya. Situasi saat ini memang tidak menguntungkan dengan nilai BPK Adsense Indonesia yang begitu rendah, tetapi itu hal yang harus diterima saat ini.

Jadi, usaha meningkatkan pendapatan Adsense harus menjadikan kondisi ini sebagai dasar strategi mereka. Sulit mengubahnya dalam jangka waktu pendek. Segala usaha akan mentok bahwa jumlah klik karena penempatan iklan akan naik turun juga, begitu pula dengan nilai BPK besar yang hanya sesekali saja hadir.

Lalu, untuk apa membuang begitu banyak waktu untuk mengawasi hal seperti itu?

Bukankah ada hal lain yang justru lebih bisa dikontrol, yaitu "trafik pengunjung". Hal ini lebih mudah diurus karena kendalinya sebagian besar ada di tangan Publisher, seperti :

  1. Melakukan promosi (pasti menambah pengunjung)
  2. Menggunakan teknik dan trik SEO 
  3. Menambah jumlah artikel yang diterbitkan
  4. Membuat lebih banyak blog
Kesemua ini memberikan hasil yang lebih pasti dibandingkan terus menerus melakukan eksperimen penempatan iklan atau meningkatkan nilai BPK. Pengunjung akan terus berdatangan jika bisa, mau, dan konsisten melakukan yang di atas.

Semakin banyak pembaca yang terjaring, maka pendapatan Adsense, biasanya akan meningkat. Kalaupun turun tidak akan drastis. Grafiknya akan terlihat stabil alias merangkak naik perlahan. Tidak ada lonjakan drastis tetapi tidak ada penurunan yang drastis juga.

Stabil.

Kata kunci yang selalu diidamkan pebisnis manapun. Dengan adanya kestabilan, maka akan bisa dibuatkan rencana untuk ke depan. Dan, jika memang mau sukses dalam ber-Adsense, maka blog harus dipandang sebagai unit usaha, dan setiap unit usaha akan membutuhkan yang namanya kestabilan.

Itulah mungkin yang sedang saya kerjakan. Enjoy saja saya saat ini terus menulis dan menulis. Saya malas mengutak atik posisi iklan dan malas mencoba tips dan trik menaikkan BPK, karena saya menyadari bahwa dengan trafik pengunjung yang masih se-upil itu, tidak akan banyak peningkatan yang akan didapat. Bisa jadi malah data yang didapat akan menyesatkan dan memberikan kesenangan sesaat saja.

Yang ada saya malah membuang waktu saja.

Barulah nanti, kalau trafiknya sudah puluhan ribu perhari, maka saya akan berpikir ulang tentang 2 hal tadi. Bukan sekarang.

Kapan? Ya, nggak tahu juga. Masing-masing punya target sendiri , jadi sesuaikan saja dengan target sendiri.

Saya sendiri tidak memiliki target spesifik, tetapi berharap, yah kalau pas pensiun blog-blog ini bisa memberikan penghasilan, jelas sangat baik. Saya nggak perlu pusing lagi nyari penghasilan.

Setelah lihat KTP, ternyata masih lumayan lama juga saya pensiun kerja, yah 7-8 tahun lagi. Waktu yang jelas cukup untuk para blog yang saya kelola untuk berkembang dan tumbuh. Saat ini saja dengan banyak blog, terlihat ada peningkatan jumlah pengunjung yang lumayan dari tahun ke tahun, hal ini paralel dengan peningkatan pendapatan recehan Adsense juga. Jadi mudah-mudahan 7-8 tahun lagi, seiring dengan semakin menuanya blog biasanya trafi pengunjung akan membesar.

Sekarang sih, enjoy saja dan nikmati ngeblog dan menulis saja. Toh dengan begitu saya sudah melakukan usaha yang menurut saya paling penting dalam meningkatkan pendapatan Adsense, yaitu dengan meningkatkan trafik pengunjung blog (yang dipasangi Adsense).

Gigi Susu Yang Lucu dan Imut

Gigi Susu Yang Lucu dan Imut
Foto : Mymilktoof
Kata siapa blog yang menarik hanya berisi kata-kata saja? Buktinya di tangan orang yang kreatif, apa saja bisa dibuat menjadi menarik dan menghibur.

Sayang sekali blog yang satu ini sudah terhenti sejak 2015, padahal isinya lucu-lucu dan tentunya menarik.

Nama blognya MyMilkToof. Bakalan pusing kalau harus mencari tahu arti kata-kata pembentuk nama blog ini. My = Saya, Milk = Susu, nah lalu toof itu artinya apa. Silakan ubek-ubek sendiri deh via Google Translate dan yakin nggak bakalan dapat artinya.

Toof itu semacam plesetan dari kata tooth, alias gigi. Jadi, nama blog ini adalah Gigi Susuku.

Memang, blog ini berisikan foto-foto dengan subyek sepasang gigi susu. Ceritanya sedikit tetapi dari-foto-fotonya, bisa terlihat kegiatan apa yang dilakukan si sepasang gigi susu ini. Bahkan, tanpa mengerti bahasa Inggris pun akan bisa memahami apa yang mereka lakukan.

Kreatif. Bisa terlihat mimik marah, sedih, atau kecewa. Jelas sang blogger adalah seorang fotografer yang handal juga karena semua fotonya terlihat bersih, tajam, dan tentunya bisa bercerita.

Persis baca komik tapi dalam bentuk foto.

Pemiliknya Inhae Renee Lee, seorang warga Amerika keturunan Korea yang sekarang menjadi full time blogger.

Nah, kalau ada yang bilang sebuah blog tidak bisa menarik dan menghibur kalau tidak banyak teks, yah, silakan coba datang sendiri saja ke sini. Linknya sudah saya berikan di foto di atas.

Cool.

Membalas Komentar Di Wordpress Lebih Enak Dibanding Blogspot

Membalas Komentar Di Wordpress Lebih Enak Dibanding Blogspot

Setiap platform blogging pasti ada kelemahan dan kelebihannya. Dalam satu hal Blogspot lebih baik tetapi dalam hal lain Wordpress lebih baik.

Bagi saya sendiri, kesederhanaan blogspot adalah sebuah kelebihan tersendiri karena bisa lebih terfokus pada kegiatan menulis saja. Perhatian bisa tercurah pada membuat konten.

Hanya saja ada satu hal yang agak menyebalkan saat memakai blogspot. Hal itu terjadi saat membalas komentar yang ditinggalkan para pembaca atau rekan sesama blogger. Mau tidak mau saya harus membuka laman dimana komentar itu ditinggalkan.

Repot. Saya diperlakukan sebagai bukan "pengelola" dan dianggap sebagai pembaca juga. Kurang nyamannya lagi, biasanya saat membalas komentar statistik blogspot tetap menghitung sebagai sebuah kunjungan. Datanya menjadi kacau. Padahal, settingan sudah di-set supaya saat saya membalas komentar jangan di-track, tetap saja keukeuh si blogspot menghitung.

Belum lagi, saya memakai Simplify 2 dari Arlina design. Template ini aneh karena setiap saya membuka laman sendiri, statistik pengunjung akan bertambah dalam angka yang berlipat, seperti

  • buka laman homepage dihitung 1
  • buka laman posting tanpa komentar dihitung 3
  • buka laman posting dan membalas komentar dihitung 5-6
Entah script apa yang ada didalamnya. Yang jelas, perhitungan berdasarkan statistik blogger di web kacau dan saya tidak bisa mendapat data yang akurat.

Tetapi, yang paling membuat tidak nyaman adalah karena saya harus membuka laman, ada resiko tidak sengaja mengklik iklan yang tampil. Walau belum pernah terjadi, tetap saja hal itu menghadirkan rasa tidak nyaman dan was was juga. Kecelakaan bisa saja terjadi.

Itulah mengapa saya tidak suka mengunjungi blog milik sendiri. Bahkan, yang di Wordpress Self Hosted sekalipun saya jarang melakukannya.

Dalam hal ini Wordpress Self Hosted (Wordpress.org) memang lebih enak. Untuk membalas komentar yang masuk, tidak perlu membuka laman. Semua bisa dilakukan di dashboard saja. Tidak perlu berkunjung ke web sendiri.

Semua masalah di atas bisa dihindarkan.

Memang tidak ada yang sempurna dimanapun. Blogspot memang murah, gratis malah, sederhana dan bisa membuat orang terfokus pada ngeblognya, tetapi bikin repot saat hendak membalas komentar.

Yah. Itulah dunia. Penuh dengan ketidaksempurnaan dan harus diterima.

Dua Artikel Dengan Kata Kunci Sama di Blog Yang Sama - Apa Efeknya di Mesin Pencari?

Dua Artikel Dengan Kata Kunci Sama di Blog Yang Sama - Apa Efeknya  di Mesin Pencari?

Pernah mencoba membuat dua artikel dengan kata kunci yang sama dalam satu blog? Yah, saya pernah dan bahkan sering melakukannya. Memang, walau bukan ahli, tetapi saya cukup paham resikonya, yaitu salah satu dari artikel akan diabaikan kalau ada pencarian dengan kata kunci tersebut.

Sayangnya, karena saya lebih fokus pada menulis, maka hal tersebut saya abaikan dengan sengaja. Hal itu saya pikir menghambat sekali dalam pengembangan ide dan pembuatan judul. Rasanya lebih enak menulis saja apa yang dimau tanpa harus berpikir tentang apa efeknya bagi mesin pencari.

Karena kebetulan saja, saya sedang melakukan eksprimen kecil tentang hal itu, saya menemukan dua hasil yang ternyata berbeda dan tidak melulu seperti yang dikatakan oleh para pakar blogging. Ternyata tidak selalu hasilnya salah satu disingkirkan.

Tidak percaya.

Coba lihat hasil screenshoot dari SERP (Search Engine Result Page - Halaman Hasil Pencarian) Google kalau kata kunci yang sama dimasukkan.

Dua Artikel Dengan Kata Kunci Sama di Blog Yang Sama - Apa Efeknya  di Mesin Pencari?

Bisa tebak kata kuncinya kan? Dan, yang mana yang berasal dari blog yang sama? Pastilah Anda bisa menemukannya kalau teliti.

Dari screenshoot di atas terlihat ada dua tulisan dari satu blog yang memiliki keyword yang sama. Dan, ternyata hasilnya bertentangan dengan apa yang dipercaya para pakar blogger bahwa salah satu akan diabaikan dan disingkirkan.

Kedua tulisan dengan kata kunci yang sama ternyata ditampilkan dua-duanya di SERP.

Analisanya karena kedua tulisan berkata kunci sama itu memiliki tujuan yang berbeda. Yang berada di atas berisi kebanyakan foto saja karena bertujuan memperlihatkan keindahan tempatnya. Nah, yang di bawahnya lebih banyak teksnya, walau ada fotonya juga. Keduanya juga ditempatkan pada kategori yang berbeda. Mungkin hal-hal itulah yang membuat kedua artikel dengan kata kunci yang sama bisa tampil dua-duanya.

Kasus kedua, dan hasilnya berbeda baru terjadi beberapa hari yang lalu. Sebuah tulisan terbit di Pojok Menulis dengan kata kunci (atau frase kunci tepatnya) "Keuntungan Menjadi Blogger". Tulisan ini justru belum pernah dibuat dalam satu blog, tetapi sebagai ajang uji coba, saya meletakkannya di dua blog yang berbeda. Yang satu di Maniak Menulis (Silakan ikuti Link Ini ).

Isinya sama dan hanya judulnya dibuat berbeda.

Hasilnya, yang di Pojok Menulis ternyata tidak tampil di halaman SERP keberapapun, begitu juga dengan yang Maniak Menulis.

Lha? Heran? Saya juga waktu itu. Biasanya kekuatan DA dan PA Pojok Menulis akan membuat sebuah tulisan cepat tampil dan bahkan kerap naik ke peringkat yang baik di halaman pertama. Kalaupun tidak , artikel itu akan masuk ke halaman 2-3. Tetapi, yang ini ternyata tidak demikian.

Selidik punya selidik, hal itu ternyata karena sebuah hal kecil. Bukan karena ada dua artikel dengan kata kunci sama dalam blog itu. Tidak sama sekali. Tulisan itu baru dibuat.

Hal kecil itu adalah beberapa bulan yang lalu, saya sempat hendak membuat tulisan seperti itu dan sebagai persiapannya, sebuah image sudah diupload dan sudah disetting dengan kata kunci "Keuntungan Menjadi Blogger". Alt-text-nya juga sudah sama. Justru, image inilah yang muncul walau di halaman ke 5-6, dan karena terbantu DA dan PA blog itu.

Jadi, rupanya image ini menghambat tulisan yang satu lagi untuk masuk ke halaman pencarian. Hanya karena image satu buah saja.

Penyelesaiannya juga tidak rumit

1. Saya hapus image yatim piatu itu dari blog (toh tidak dipakai)
2. Kemudian saya masuk ke Google Webmaster Tool dan meminta penghapusan URL image itu

Selesai dan tunggu.

Ternyata, hanya dalam satu hari saja, tulisan yang di Pojok Menulis langsung keluar di halaman mesin pencari, walau belum ke halaman pertama, tetapi sudah bertengger di halaman kedua.

Dua Artikel Dengan Kata Kunci Sama di Blog Yang Sama - Apa Efeknya  di Mesin Pencari?

Mudah-mudahan saja bisa naik terus peringkatnya. Nah, biasanya kalau saya memang memfokuskan diri pada SEO, tinggal mencarikan backlink dan meminta teman/rekan/tetangga untuk melakukan sharing agar peringkatnya semakin naik. Masalahnya, saya malas melakukan itu semua, jadi tulisan ini akan tetap dibiarkan saja apa adanya, tanpa backlink atau apapun. Natural saja.

Yah, memang itu jeleknya. Makanya saya tidak akan jadi pakar SEO, karena malas untuk melakukan yang seperti itu. Saya lebih suka dan fokus pada menulis saja. Meskipun demikian, sekali-kali, saya akan melakukan ekspreimen kecil sekaligus untuk melatih  kemampuan dalam bidang itu. Sayang kalau pengetahuan itu hilang karena malas.

Beberapa kali juga ternyata tidak gagal dalam bersaing dengan yang katanya para pakar SEO. Seru juga iseng-iseng seperti ini.

Ohh sebelum lupa, bagaimana dengan tulisn yang di Maniak Menulis? Sesuai prediksi, tulisan dengan kata kunci yang sama itu belum muncul sama sekali. Harap maklum, DA dan PA, atau kekuatan Maniak Menulis sendiri masih rendah sekali kalau dibandingkan Pojok Menulis yang berinduk pada Lovely Bogor. Butuh perjuangan khusus kalau mau muncul dan sayangnya saya tidak akan melakukan itu. Tulisan yang sama akan dibiarkan saja apa adanya untuk melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Siapa tahu tulisan ini bisa memberikan gambaran bagaimana hasil dari membuat dua tulisan dengan keyword yang sama dalam satu blog. Walau kalau saya yang ditanya, tetap saja pusing karena ada dua hasil yang berbeda.

Tetapi, siapa tahu Anda memang pakar SEO dan bisa menemukan pemecahannya. Saya mah hanya sekedar sharing saja.

Fatwa MUI : Blog Termasuk Media Sosial

Banyak blogger yang mungkin tidak peduli, atau tidak tahu bahwa fatwa MUI tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial juga harus diperhatikan saat mengelola blog. Selama ini istilah "media sosial" sendiri lebih akrab dikaitkan dengan Facebook, Twitter, Instagram, dan beberapa nama lainnya.

Padahal, fatwa tersebut menyebutkan dengan jelas bahwa blog termasuk media sosial. Silakan baca pada bagian Ketentuan Umum di Fatwa no 24 tahun 2017, yang menyebutkan sebagai berikut :

Fatwa MUI : Blog Termasuk Media Sosial
Istilah blog disebutkan dengan jelas sebagai salah satu bentuk media sosial.

Dengan ini, tentunya para blogger muslim pun harus mau memperhatikan berbagai hal yang disebutkan dalam fatwa tersebut sebagai pedoman saat menerbitkan artikel.

Berdasarkan sejarah blog sendiri memang sangat mendukung kenyataan bahwa blog adalah sebuah bentuk media sosial kareaa memenuhi banyak syarat, seperti dikelola perorangan atau kelompok, dipergunakan untuk mengungkapkan pemikiran, dan sejenisnya. Blog tidak dikelola oleh profesiona dan organisasi.

Hukum negara pun menempatkan blog bukan dalam wilayah UU Pers, tetapi UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).. Penanganannya berbeda seperti yang dilakukan dalam penutupan beberapa blog/website pribade selama ini, seperti misalnya Portalpiyungan.

Dosa atau pahala memang bukan urusan manusia untuk menentukan, tetapi memiliki patokan, seperti hukum atau fatwa, tentunya bisa membantu kita menemukan keridhoan Allah SWT. Lagipula, isi dari fatwa ini sendiri sangat mendukung untuk terbentuknya masyarakat Indonesia yang lebih baik lagi.

Berbagai hal yang dikemukakan selaras dengan apa yang sedang dilakukan pemerintah dalam usaha mengurangi penyebaran hoax dan informasi yang tidak benar.

Jadi, kawan blogger, sebelum menerbitkan artikel, cobalah juga lakukan cek dan re-cek agar kita sendiri tidak menjadi bagian dalam penyebaran hoax atau informasi yang tidak benar. Pahamilah bahwa itu bisa membawa dampak negatif bagi banyak orang.

[Penting] Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Lewat Media Sosial

 Fatwa MUI Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Lewat Media Sosial


Bagi rekan blogger yang beragama Islam, tentunya perlu mengetahui beberapa hal yang terkait dengan kebiasaan bermedia sosial agar tidak menimbulkan mudharat.

 Lengkapnya bisa dilihat di sini .

-----



Fatwa-No.24-Tahun-2017-Tentang-Hukum-dan-Pedoman-Bermuamalah-Melalui-Media-Sosial



FATWA TENTANG HUKUM DAN PEDOMAN BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL


Pertama :



Ketentuan Umum :


Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan:
  1. Bermuamalah adalah proses interaksi antar individu atau kelompok yang terkait dengan hubungan antar sesama manusia (hablun minannaas) meliputi pembuatan (produksi), penyebaran (distribusi), akses (konsumsi), dan penggunaan informasi dan komunikasi.
  2. Media Sosial adalah media elektronik, yang digunakan untuk berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi dalam bentuk blog, jejaring sosial, forum, dunia virtual, dan bentuk lain.
  3. Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat, didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun nonelektronik.
  4. Ghibah adalah penyampaian informasi faktual tentang seseorang atau kelompok yang tidak disukainya.
  5. Fitnah (buhtan) adalah informasi bohong tentang seseorang atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang)
  6. Namimah adalah adu domba antara satu dengan yang lain dengan menceritakan perbuatan orang lain yang berusaha menjelekkan yang lainnya kemudian berdampak pada saling membenci.
  7. Ranah publik adalah wilayah yang diketahui sebagai wilayah terbuka yang bersifat publik, termasuk dalam media sosial seperti twitter, facebook, grup media sosial, dan sejenisnya. Wadah grup diskusi di grup media sosial masuk kategori ranah publik.

Kedua


Ketentuan Hukum

1. Dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu‟asyarah bil ma‟ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma‟ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu „an al-munkar). 2. Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • a. Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan.
  • b.  Mempererat persaudaraan (ukhuwwah), baik persaudaraan keIslaman (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), maupun persaudaraan kemanusiaan(ukhuwwah insaniyyah).
  • c. Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.
3. Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:

  • a. Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.
  • b. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.
  • c. Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
  • d. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syariâh
  • e. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

4. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.

5. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi
kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.

6. Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar'i
7. Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang  bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan
tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.
8. Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.
9. Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram.  Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

Ketiga

PEDOMAN BERMUAMALAH


A. PEDOMAN UMUM

1. Media sosial dapat digunakan sebagai sarana untuk menjalin silaturrahmi, menyebarkan informasi, dakwah, pendidikan, ekreasi, dan untuk kegiatan positif di bidang agama, politik, ekonomi, dan sosial serta budaya.
2. Bermuamalah melalui media sosial harus dilakukan tanpa melanggar ketentuan agama dan ketentuan peraturan perundangundangan.
3. Hal yang harus diperhatikan dalam menyikapi konten/informasi di media sosial, antara lain:
  • a. Konten/informasi yang berasal dari media sosial memiliki kemungkinan benar dan salah.
  • b. Konten/informasi yang baik belum tentu benar.
  • c. Konten/informasi yang benar belum tentu bermanfaat.
  • d. Konten/informasi yang bermanfaat belum tentu cocok untuk disampaikan ke ranah publik.
  • e. Tidak semua konten/informasi yang benar itu boleh dan pantas disebar ke ranah publik.

B. PEDOMAN VERIFIKASI KONTEN/INFORMASI

1. Setiap orang yang memperoleh konten/informasi melalui media sosial (baik yang positif maupun negatif) tidak boleh langsung menyebarkannya sebelum diverifikasi dan dilakukan proses tabayyun
serta dipastikan kemanfaatannya.

2. Proses tabayyun terhadap konten/informasi bisa dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
  • a. Dipastikan aspek sumber informasi (sanad)nya, yang meliputi kepribadian, reputasi, kelayakan dan keterpercayaannya.
  • b. Dipastikan aspek kebenaran konten (matan)nya, yang meliputi isi dan maksudnya.
  • c. Dipastikan konteks tempat dan waktu serta latar belakang saat informasi tersebut disampaikan.
3. Cara memastikan kebenaran informasi antara lain dengan langkah :

  • a. Bertanya kepada sumber informasi jika diketahui
  • b. Permintaan klarifikasi kepada pihak-pihak yang memiliki otoritas dan kompetensi.

4. Upaya tabayyun dilakukan secara tertutup kepada pihak yang terkait, tidak dilakukan secara terbuka di ranah publik (seperti melalui group media sosial), yang bisa menyebabkan konten/informasi yang belum jelas kebenarannya tersebut beredar luar ke publik.

5. Konten/informasi yang berisi pujian, sanjungan, dan atau hal-hal
positif tentang seseorang atau kelompok belum tentu benar,
karenanya juga harus dilakukan tabayyun.

C. PEDOMAN PEMBUATAN KONTEN/INFORMASI

1. Pembuatan konten/informasi yang akan disampaikan ke ranah publik
harus berpedoman pada hal-hal sebagai berikut:
  • a. menggunakan kalimat, grafis, gambar, suara dan/atau yang simpel, mudah difahami, tidak multitafsir, dan tidak menyakiti orang lain.
  • b. konten/informasi harus benar, sudah terverifikasi kebenarannya dengan merujuk pada pedoman verifikasi informasi sebagaimana bagian A pedoman bermuamalah dalam Fatwa ini.
  • c. konten yang dibuat menyajikan informasi yang bermanfaat.
  • d. Konten/informasi yang dibuat menjadi sarana amar ma'ruf nahi munkar dalam pengertian yang luas.
  • e. konten/informasi yang dibuat berdampak baik bagi penerima dalam mewujudkan kemaslahatan serta menghindarkan diri dari kemafsadatan.
  • f. memilih diksi yang tidak provokatif membangkitkan kebencian dan permusuhan. serta tidak
  • g. kontennya tidak berisi hoax, fitnah, ghibah, namimah, bullying, gosip, ujaran kebencian, dan hal lain yang terlarang, baik secara agama maupun ketentuan peraturan perundangundangan.
  • h. kontennya tidak menyebabkan dorongan untuk berbuat hal-hal yang terlarang secara syar’i, seperti pornografi, visualisasi kekerasan yang terlarang, umpatan, dan provokasi.
  • i. Kontennya tidak berisi hal-hal pribadi yang tidak layak untuk disebarkan ke ranah publik.
2. Cara memastikan kemanfaatan konten/informasi antara lain dengan jalan sebagai berikut:

  • a. bisa mendorong kepada kebaikan (al-birr) dan ketakwaan (altaqwa).
  • b. bisa mempererat persaudaraan (ukhuwwah) dan cinta kasih (mahabbah)
  • c. bisa menambah ilmu pengetahuan
  • d. bisa mendorong untuk melakukan ajaran Islam dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi laranganNya.
  • e. tidak melahirkan kebencian (al-baghdla‟) dan permusuhan
  • (al-„adawah).

3. Setiap muslim dilarang mencari-cari aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain, baik individu maupun kelompok, kecuali untuk tujuan yang dibenarkan secara syar‟y seperti untuk penegakan hukum atau mendamaikan orang yang bertikai (ishlah dzati al-bain).

4. Tidak boleh menjadikan penyediaan konten/informasi yang berisi tentang hoax, aib, ujaran kebencian, gosip, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi atau kelompok sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, seperti profesi buzzer yang mencari keutungan dari kegiatan terlarang tersebut.

D. PEDOMAN PENYEBARAN KONTEN/INFORMASI

1. Konten/informasi yang akan disebarkan kepada khalayak umum harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

  • a. Konten/informasi tersebut benar, baik dari sisi isi, sumber, waktu dan tempat, latar belakang serta konteks informasi disampaikan.
  • b. Bermanfaat, baik bagi diri penyebar maupun bagi orang atau kelompok yang akan menerima informasi tersebut.
  • c. Bersifat umum, yaitu informasi tersebut cocok dan layak diketahui oleh masyarakat dari seluruh lapisan sesuai dengan keragaman orang/khalayak yang akan menjadi target sebaran informasi.
  • d. Tepat waktu dan tempat (muqtadlal hal), yaitu informasi yang akan disebar harus sesuai dengan waktu dan tempatnya karena informasi benar yang disampaikan pada waktu dan/atau tempat yang berbeda bisa memiliki perbedaan makna.
  • e. Tepat konteks, informasi yang terkait dengan konteks tertentu tidak boleh dilepaskan dari konteksnya, terlebih ditempatkan padakonteks yang berbeda yang memiliki kemungkinan pengertian yang berbeda.
  • f. Memiliki hak, orang tersebut memiliki hak untuk penyebaran, tidak melanggar hak seperti hak kekayaan intelektual dan tidak melanggar hak privacy.
2. Cara memastikan kebenaran dan kemanfaatan informasi merujuk pada ketentuan bagian B angka 3 dan bagian C angka 2 dalam Fatwa ini.

3. Tidak boleh menyebarkan informasi yang berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis yang tidak layak sebar kepada khalayak.

4. Tidak boleh menyebarkan informasi untuk menutupi kesalahan, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan
menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak.

5. Tidak boleh menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke ranah publik, seperti ciuman suami istri dan pose foto tanpa menutup aurat.

6. Setiap orang yang memperoleh informasi tentang aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain tidak boleh  menyebarkannya kepada khalayak, meski dengan alasan tabayyun.

7. Setiap orang yang mengetahui adanya penyebaran informasi tentang aib, kesalahan, dan atau hal yang tidak disukai oleh orang lain harus melakukan pencegahan.

8. Pencegahan sebagaimana dimaksud dalam angka 7 dengan cara mengingatkan penyebar secara tertutup, menghapus informasi, serta mengingkari tindakan yang tidak benar tersebut.

9. Orang yang bersalah telah menyebarkan informasi hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis kepada khalayak, baik sengaja atau tidak tahu, harus bertaubat
dengan meminta mapun kepada Allah (istighfar) serta; (i) meminta maaf kepada pihak yang dirugikan (ii) menyesali perbuatannya; (iii) dan komitmen tidak akan mengulangi.

Keempat

Rekomendasi

1. Pemerintah dan DPR-RI perlu merumuskan peraturan perundangundangan untuk mencegah konten informasi yang bertentangan dengan norma agama, keadaban, kesusilaan, semangat persatuan dan
nilai luhur kemanusiaan.

2. Masyarakat dan pemangku kebijakan harus memastikan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi didayagunakan untuk kepentingan kemaslahatan dan mencegah kemafsadatan.

3. Pemerintah perlu meningkatkan upaya mengedukasi masyarakat untuk membangun literasi penggunaan media digital, khususnya media sosial dan membangun kesadaran serta tanggung jawab dalam mewujudkan masyarakat berperadaban (mutamaddin).

4. Para Ulama dan tokoh agama harus terus mensosialisasikan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab dengan mendorong pemanfaatannya untuk kemaslahatan umat dan mencegah
mafsadat yang ditimbulkan.

5. Masyarakat perlu terlibat secara lebih luas dalam memanfaatkan media sosial untuk kemaslahatan umum.

6. Pemerintah perlu memberikan teladan untuk menyampaikan informasi yang benar, bermanfaat, dan jujur kepada masyarakat agar melahirkan kepercayaan dari publik.

Kelima


Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata dibutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.


Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 16 Sya’ban 1438 H
13 M e i 2017 M
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA

Ketua

Sekretaris

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF, MA

DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Fatwa tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial

17

Menanamkan Minat Baca Pada Anak Tidak Mudah, Butuh Waktu dan Biaya

Menanamkan Minat Baca Pada Anak Tidak Mudah, Butuh Waktu dan Biaya

Dasar blogger. Ada saja yang menulis berbagai trik ampuh untuk menanamkan minat baca pada anak. Benar-benar "clickbait" itu mendarah daging bagi banyak orang sehingga judul artikel saja dibuat bombastis sekali.

Dugaan saya, siapapuan yang mengatakan ada cara mudah, ampuh, dan pasti berhasil dalam soal menumbuhkan minat baca pada anak, kemungkinan besar yang membuat artikel belum punya anak. Kalau sudah ia tidak akan berani membuat judul yang menyesatkan dan tidak berdasarkan realita seperti itu.

Pengalaman saya sebagai ayah dari seorang anak laki-laki yang sedang beranjak dewasa menunjukkan bahwa perlu proses dan waktu yang panjang hingga ia menyukai membaca. Proses itu sudah dimulai sejak ia masih balita dan terus berlangsung hingga kini.

Bukan sebuah proses yang pendek dan hasilnya langsung bisa dirasakan.

Itulah kenapa saya bilang penulis yang memakai kata ampuh, ajaib, atau yang istilah bombastis lainnya, dalam hal ini tidak pernah tahu hal seperti ini. Makanya, kemungkinan dia belum punya anak sehingga bisa bermulut besar dan mengatakan ada trik ampuh nan ajaib.

Apalagi di zaman gadget seperti saat ini. Boro-boro ada yang ampuh karena perhatian anak-anak cenderung tersedot kepada gadget mereka. Butuh kreativitas dan perjuangan yang keras dari orangtua untuk bisa mengalihkan perhatian anak dari gadget ke buku.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa ada beberapa tahap dalam proses menanamkan hobi membaca pada anak. Bukan sebuah patokan pasti dan setiap orangtua pasti memiliki pandangan sendiri. Saya hanya menggambarkan perkembangan yang dialami si kribo kecil (yang sudah tidak kecil lagi) sehingga ia sekarang memiliki hobi membaca.

Tahapan yang dilalui dalam hal ini dibagi menjadi empat (dan mungkin bisa bertambah karena si kribo masih tetap anak-anak dan belum dewasa hingga tulisan ini dibuat). Tahap itu adalah :

1. Tahap Balita

Sejak awal, kami sudah memperkenalkan buku kepada si kribo. Tentunya bukan buku tentang fisika, politik, atau yang berat-berat.

Bahan bacaan yang dipakai adalah yang banyak gambarnya. Semakin banyak, semakin bagus. Tidak ada tulisan pun tak apa karena toh ia belum bisa membaca. Kami, orangtuanya yang membacakan cerita, kadang berulang-ulang sampai yang membacakan cerita bosan sendiri (bisa sampai sehari 10 kali harus mengulang cerita yang sama).

Tahap ini memang membutuhkan pendampingan khusus karena anak balita biasanya belum bisa membaca dan masih sangat senang melihat gambar berwarna-warni. Orangtua harus kreatif dalam menceritakan isi buku itu (dan tahan mental karena bisa sangat melelahkan).

2. Tahap Anak-Anak

Saya menyebutnya begitu. Tahap ini dihitung mulai anak masuk Sekolah Dasar hingga Kelas Enam.

Prosesnya berbeda dengan tahap balita karena pada saat ini si kribo sudah mulai bisa membaca dan tentunya tidak memerlukan saya atau istri untuk bercerita lagi. Ia lebih suka mencoba membacanya sendiri.

Hanya, tetap saja, ia belum menyukai buku yang "tanpa" gambar.

Jadilah "majalah Donal Bebek" sebagai andalan. Majalah ini masih bergambar banyak dengan tulisan yang pendek-pendek berbentuk percakapan antar karakter di dalamnya. Lucu-lucu isinya, dan saya sendiri masih gemar membacanya.

Pada tahap ini, saya juga memperkenalkan si kribo dengan yang namanya "manga" alias komik Jepang dengan karakter superhero, dan ia menyukainya. Mungkin karena ia juga gemar menonton anime di TV, jadi tidak terlalu sulit untuk membuat ia tertarik pada "manga", tentunya yang isinya "jagoan" atau "superhero".

Hingga kelas enam, si kribo sangat gemar membaca "manga", dan kerap meminta ke Gramedia untuk membeli. Hal yang terkadang masih terus dimintanya sampai sekarang.

3. Tahap Remaja

Proses menanamkan minat membaca pada anak sendiri masuk ke tahap yang lebih berat saat si kribo menjadi remaja. Berat dalam artian segi biaya. Seleranya pada buku pun berubah, atau lebih tepatnya bertambah.

Donal bebek dilupakan. Manga dipertahankan. Ditambah dengan selera baru, yaitu novel petualangan dan cerita remaja.

Suka tidak suka, karena kami ingin ia gemar membaca, terpaksalah walau terkadang dompet pas-pasan, saya sering menuruti keinginannya untuk membeli buku-buku jenis itu. Tidak murah ternyata. Kami lakukan itu karena kami harus menjaga momentum dari tahap sebelumnya yang sudah berhasil menarik minat membacanya keluar. Kalau tidak diteruskan, bisa jadi ia akan beralih kembali ke gadget.

Jadilah harus dikorbankan dana yang lumayan agar ia terus tertarik pada buku. Walaupun pada saat bersamaan, kami juga mengajarkan ia untuk menabung kalau mau membeli buku yang dia mau.

Ditambah lagi, ia semakin ahli melakukan browsing di internet dalam mencari buku.

Tahap ini adalah tahap dimana selera anak terhadap buku berubah kalau tahap sebelumnya berhasil. Tetapi, kalau tahap sebelumnya gagal, saya rasa lebih berat lagi untuk menanamkan minat membaca karena ia sudah punya kemauan sendiri. Untung kami berhasil di tahap sebelumnya.


4. Tahap Pra Dewasa

Tahap yang lebih mudah untuk dilalui, walau biaya yang dikeluarkan juga lebih besar. Maklum, kemauannya si kribo soal buku juga makin bervariasi. Jenis buku yang dipilihnya pun sudah lebih mahal.

Tetapi, saya rasa, mengingat perkembangannya, minat membacanya sudah terasah. Tidak perlu terlalu banyak campur tangan. Yang dibutuhkan hanya pengawasan tentang jenis buku (dan uang yang lebih besar).

Manga dan novel remaja masih dibacanya, tetapi beberapa novel yang agak berat pun sudah dilalapnya juga. Rupanya, kebiasaannya membaca sudah tumbuh dengan baik dan ia mulai bisa menyediakan waktu untuk membaca buku di luar sekolah dan juga kegiatannya.

Juga, ia sudah terbiasa menabung kalau mau membeli buku, walaupun seringnya ia akan memilih 2-3 buku lebih banyak sebagai stok bacaan. Koran pun mulai dibacanya selain berbagai tulisan Do It Yourself di internet.

Tahap ini belum 100% selesai karena si kribo baru kelas 10 atau 1 SMA.

Meskipun demikian, pada tahap ini minat membacanya sudah tumbuh sendiri dan tidak memerlukan bantuan dari orangtuanya lagi.

Kalau melihat dari tahapan-tahapan itu, beban terberat ada pada tahap Balita dan Anak-Anak. Disana pendampingan dan penanaman minat membaca harus dilakukan secara konsisten dan kontinyu. Tidak bisa hanya sesekali karena harus bersaing dengan media televisi dan tentunya gadget.

Dua tahap berikutnya adalah tahap "menjaga" agar minat membacanya terus terasah. Di dua tahap ini lebh merupakan pengawasan saja dibadningkan penanaman agar bibit yang sudah ditanam tidak berhenti dan layu.

Kalau layu, ya repot menumbuhkannya lagi.

Jadi, proses menanamkan minat baca pada anak bukanlah proses yang sebentar dan seketika. Oleh karena itu tidak ada cara yang pasti berhasil. Butuh perjuangan yang makan waktu dan biaya. Sesuatu yang harus mau dilakukan para orangtua agar anaknya hobi membaca.

Dan, terus terang membaca berbagai trik ampuh tentang menambahkan minat membaca pada anak sebenarnya akan sia-sia kalau di lapangan orangtua tidak mau menyempatkan diri membimbing anak. Apalagi kalau tidak mau capek mengantarkan anak ke toko buku/perpustakaan , ya sulit lah.


Jadi, itulah cara kami, orangtua si kribo dalam menanamkan minat baca pada anak. Bukan trik ampuh dan belum tentu bisa menghasilkan hal yang sama pada diri anak Anda.

Mengapa Saya Tidak Menggunakan WP Smush Lagi

Mengapa Saya Tidak Menggunakan WP Smush Lagi
WP Smush adalah nama salah satu plug in yang sangat populer di kalangan blogger yang memakai Wordpress Self Hosted sebagai platformnya. Bisa dikata semua blogger tutorial, dalam dan luar negeri akan menyarankan (dengan sangat) agar mereka yang baru memulai menggunakan  plug in yang satu ini.

Fungsinya adalah untuk memperkecil ukuran image atau gambar yang diupload ke website. Jadi, di saat sebuah image dipindahkan dari komputer ke server, ukurannya diperkecil oleh si WP Smush. Plug in ini juga bisa dipergunakan untuk memperkecil ukuran image yang sudah ada di server.

Sangat bermanfaat. Dan, saya "pernah" memakainya untuk beberapa blog yang memakai CMS Wordpress.

Kata "pernah" diberi tanda kutip. Hal ini menandakan bahwa sekarang saya sudah tidak menggunakan WP Smush lagi. Plug in ini sudah dicopot dari semua website yang saya kelola.

Alasannya karena

1. Saya sudah terbiasa mengecilkan image di komputer, alias sebelum diupload, dengan memakai software gratisan saja, seperti Photoscape dan Faststone Photo Resizer. Kalau mau upload via mobile device pun sudah ada Picture Resizer.

Ukuran imagenya pun sudah sangat kecil antara 10-50 Kilobyte saja. Lagipula, dengan memakai Photoscape, image masih bisa diedit yang tentunya menguntungkan kalau harus meningkatkan "brightness" atau "contrast".

2. WP Smush memang mengecilkan ukuran untuk file yang belum diperkecil di komputer, tetapi plug in ini tidak lagi memberikan hasil yang signifikan kalau image sudah diperkecil di komputer. Malah, terkadang hasil WP Smush masih jauh lebih besar daripada kalau diperkecil dengan Faststone Photo Resizer.

Hal ini ditambah dengan kenyataan penggunaan plug ini pada Wordpress akan memberatkan website atau blog. Memang tidak banyak karena WP Smush sangat ringan, tetapi, karena fungsinya sudah tergantikan, ya untuk apa dipasang.

Jadilah saya memutuskan untuk tidak lagi menggunakan WP Smush pada blog Wordpress yang saya kelola.

Keuntungan menggunakan software seperti Photoscape atau Faststone Photoresizer adalah saya bisa mengecilkan semua image untuk blog-blog berbasis blogspot juga, yang tidak punya fasilitas plug in. Semua foto yang dipasang di blogspot sudah melalui proses pengecilan di komputer.

Ringkas, cepat dan tidak memberatkan website. Yang terpenting, kedua software itu gratis dan mudah digunakan.

Kalau ada rekan-rekan yang belum terbiasa mengecilkan image atau foto, saya sarankan pergunakan saja kedua software ini. Benar-benar tidak bayar dan tidak ada iklannya. Pemakaiannya juga mudah sekali.